dunia lain untuk bicara

22 Juni 2011

Mendengar Anjing Bicara

Seekor anjing kurus kering tidak akan terlalu menarik perhatian. Perutnya yang lebih banyak kosong terkadang juga membuat otaknya kosong. Cuma terkadang seekor anjing bisa lebih sadar dalam melihat dirinya sendiri daripada seorang manusia.

Satu ketika, anjing kurus itu pernah bicara, tentang cinta yang pasti akan berbalas cinta. Tentang kebaikan yang berbalas kebaikan. Tentang niat baik yang akan melahirkan begitu banyak kebaikan. Juga, soal ketulusan yang pasti takkan berbuah sia-sia. Tetapi entah karena suara seekor anjing lapar terdengar lebih mirip erangan, maka yang muncul suaranya hanya memberi buah berupa tuduhan yang sama sekali tidak berperikebinatangan, bahwa suaranya itu cuma untuk menyentuh hati demi sekerat tulang sisa. Selebihnya, ia terkaing-kaing sendiri dengan suara lemah tanpa bisa berkata apa-apa. Lha, sebenarnya ia memang tidak berkata-kata selain hanya berdiri di pagar rumah agar tidak ada maling nekad masuk. Berdiam dalam pagar tinggi meski tidak makan apa-apa untuk menunjukkan pelajaran keteguhan pada kesetiaan yang sangat jarang dimiliki manusia.

Apa boleh buat, meski banyak kebaikan yang coba ia ekspresikan tanpa pernah merasa depresi, tidak juga membuat manusia membuka hati. Secara tersirat mereka malah katakan, bahwa seekor anjing takkan bisa memberi apa-apa, apalagi sebuah pelajaran tentang nilai hidup. Anjing itu sucah cukup dihibur dan diam dengan sekerat tulang. Pun, mungkin pengaruh buku-buku yang dibaca manusia yang banyak menyebut anjing sebagai najis, dan itu juga diyakinkan atas nama agama.

“Sebaiknya, kalaupun kau bisa bicara seperti seorang Nabi sekalipun, tetap kau harus memilih diam. Karena suaramu hanya membuat anak-anak ketakutan karena membayangi hantu.”
Ah, sayangnya memang anjing setia akan tetap memilih setia, meski pentungan kerap menyinggahi tubuh kurusnya. Tak peduli pentungan itu diayunkan dengan tangan Tuhan. 

“Sebagai anjing, aku akan bicara dengan caraku, meski aku tidak mengenal terlalu banyak kata-kata dan ditakdirkan tidak bisa membaca.” Ujarnya pada rel kereta api yang berwarna kecoklatan. Seakan berharap, mukjizat Tuhan akan membuat besi tua rel kereta api itu menjadi makhluk hidup yang bisa bicara dengan suara yang hinggap ke seluruh gerbong kereta lewat.

Jakarta, 8 Nov 2010

Also Published in: Kompasiana
Posting Komentar
Adbox