dunia lain untuk bicara

27 Juni 2011

Malaikat itu Bernama Perempuan

Sayap-sayap indah mereka memiliki kekuatan terbangkan bumi ke titik galaksi penuh cahaya. Menutup mata pada setiap luka di tubuh indahnya, akan membuat sayap itu melemah. Bahkan patah. Bumi kemudian terhempas dalam titik tergelapnya. Merekakah yang salah?
 
Sebelum saya menuangkan kata-kata lebih jauh. Sepertinya memang saya harus pastikan untuk melihat perempuan secara utuh. Bukan karena mereka menguasai kutub angka yang lebih besar dari lelaki, namun mencoba untuk melihat setiap inci 'tubuh' mereka dengan nurani. Tidak juga dengan alasan-alasan parsial lainnya.

Perempuan, pemilik kekuatan didalam kelemah-lembutannya. Pemilik tubuh-tubuh indah yang mengundang pesona setiap lelaki yang sebenar lelaki. Dikagumi dan dipuja. Beribu bait puisi dari beribu abad menetas dalam beribu antologi, keluar dari hati para lelaki. Hanya untuk melukis keindahan makhluk Tuhan itu.
Sayangnya, saat membuka lembar-lembar koran. Mengintip-intip helai halaman majalah. Tidak hanya satu dua catatan yang menyodorkan bukti,"kaum lelaki telah membuat malaikat-malaikat itu nyaris mati dalam lelah." 

Beberapa lelaki picik, dengan mata pena kepengecutan menulis puisi tanpa pelibatan hati,"mereka hanyalah tulang-tulang rusuk lemah, yang nanti akan dibawa lari anjing-anjing lapar." Saat-saat melihat hal-hal seperti itu, aku mencoba menutup geram agar tidak disebut sebagai lelaki yang haus untuk digelari sebagai pahlawan.

***
Dalam hal ini, semoga tidak ada yang keberatan kalau aku begitu membanggakan agamaku. Islam. Berbagai ensiklopedi histori mengatakan, puluhan abad perempuan dizalimi. Oleh lelaki yang dengan serakah memperistri beratus-ratus istri. Sedangkan para lelaki itu lebih sering mencampakkan perempuan-perempuannya. Dengan cerdik Agama itu mengajarkan, cukuplah 4 saja engkau beristri dan akan lebih baik bila hanya 1 orang istri saja. Bagiku itulah cara bijak menghargai mereka. Penghargaan pada para malaikat penuh kelembutan itu.

***
Memang, tak jarang saya juga bisa tercenung lama pada beberapa manusia. Manusia yang 'mengizinkan'
lelaki untuk berselingkuh dengan beribu perempuan lain yang sedang mengalami rapuh.  Dan menentang habis-habisan pada sikap beberapa lelaki yang memilih nikah lebih dari 1 istri, walaupun sudah dijelaskan alasan pernikahan tersebut untuk kebaikan, Pernikahan yang tidak hanya karena alasan kebutuhan bawah perut saja.

Tapi begitu aku mencoba untuk agak berlama-lama merenung. Mencoba untuk tidak menyalahkan siapa-siapa. Selain, mencoba arahkan dengan tegas jari telunjuk ke arah beberapa lelaki yang mengatas-namakan pernikahannya lebih dari satu karena 'alasan' agama.

Mendapat dukungan,"Harusnya kalau memang ingin untuk menikah karena alasan agama, jangan cari yang lebih cantik dong. Tapi yang benar-benar berhak untuk ditolong, misal saja perempuan miskin. Nikahi saja mereka agar tidak terjebak dalam kemungkinan terburuk seperti prostitusi. Istri pertama pasti bisa ikhlas, toh istri yang dinikahi kemudian itu tidak lebih cantik darinya. Jikapun, dalam akhlak perempuan kedua itu lebih baik, istri yang pertama pasti akan belajar terus untuk menjadi semakin baik. Apalagi dia sangat tahu, dirinya lebih cantik dari istri kedua suaminya." Ilustrasi Dilla, salah seorang muslimah Batak yang sempat berdiskusi denganku.

***
Menyimak hal itu, kukira, memang tepat untuk lelaki lebih tulus dalam mengayunkan rantai keputusan ditengah pusaran godaan yang menghinggapinya. Seperti pernah diucapkan seorang rekanku, Tgk Dr Muhammad Jabir,"saya setuju saja untuk lelaki menikah lebih dari satu, daripada mereka berzina dan betul-betul untuk alasan kebaikan. Namun, aku sendiri tetap memilih untuk menikahi 1 istri saja dan tidak berniat untuk berzina dengan wanita lain." Sangat mencerminkan sebuah kebijaksanaan.

Lantas. Jangan patahkan sayap-sayap malaikat itu. Lelaki idealnya memang lebih membuka mata dan hatinya. Jeli melihat, jangan-jangan ia menjadi salah satu lelaki yang telah membuat sayap-sayap malaikat itu terluka. Ah, andai dunia lebih peka dan jeli, sepertinya aku akan lebih berani teriak, "takkan ada lagi tempat-tempat prostitusi di jengkal-jengkal bumi ini. Takkan ada yang berani cerabut harga diri para malaikat yang seharusnya abadi dalam suci" 

Malaikat-malaikat itu juga semua menyadari dan melihat terang, bahwa mereka adalah malaikat. Jika sudah begitu, pasti takkan ada lagi perempuan yang melukai diri sendiri. Dan tak perlu lagi mengeluarkan kalimat,"aku tetap bisa hidup meski tanpa laki-laki." Toh, manusia apapun kelaminnya tidak ditaqdirkan untuk hidup sendiri saja."

Also Published in: Kompasiana
Posting Komentar
Adbox