dunia lain untuk bicara

17 Juni 2011

Lelaki Tua Penyembah Kelamin Itu Mati


Hidup hanya untuk bermain-main dengan kelamin, begitu kata Darto. Kalimat yang pernah diucapkannya jauh saat ia masih muda sekali. Itu menjadi sabdanya yang akan ia ucapkan di mana-mana andai ia iseng dipilih Tuhan sebagai Nabi. Syukurnya Tuhan memang cuma memberikan kebiasaan iseng itu pada makhluk-makhluknya saja. “Maka, jangan tertawakan kalau aku menerjemahkan hidup seperti itu.” Darto temukan alasannya.

Hari ini ia sudah menjadi bagian dari daftar orang-orang yang sudah masuk daftar absensi mati. Maksudnya, ya absensi orang yang tidak lama lagi harus mati. “Aku tidak tertarik untuk mencari syurga yang terlalu lama, kalau di dunia pun aku bisa mendapatkan syurga itu,” jelasnya. Padahal, aku sedang tidak menanyakan apa-apa. Curigaku, saat masih muda dulu dia ambil keputusan untuk jadi pemain kelamin, ia sudah lebih dulu mikir keras untuk mencari-cari alasan.]

“Kalau ada yang pesankan padamu, jangan main-main dengan kelamin. Aku pastikan ia tidak punya kelamin, atau boleh jadi kelaminnya sudah dikerubuti belatung!” Aku hanya mendengar saja. Tapi, sempat juga memasukkan tangan ke dalam kantong celana. Memastikan, yang kumiliki masih baik-baik saja.

Tidak tahu kenapa. Usianya dengan usiaku terpaut jauh, padahal. Aku baru kepala tiga sedang Darto sudah 70 tahun. Tidak suka dipanggil dengan sebutan “bapak” atau apa pun semisal itu,”Panggil saja aku Darto!” tegasnya berkali-kali setiap lidahku terpeleset memanggilnya pak atau bapak.

“Ini menyangkut jalan hidup, kawan. Aku menamakan jalan hidupku sebagai jalan kelamin. Iya, jalan aku leluasa mengabdi pada kelaminku sendiri.”

“Kau tidak bisa membayangkan ketika kelaminku menjadi belut lincah yang bahkan bisa merangsek di tanah-tanah yang masih keras,” berlanjut sudah ceritanya semakin jauh. Tentang pengalamannya ‘menguliti’ perawan lugu anak tetangganya. Juga, tidak ketinggalan, ia bercerita tentang pengalamannya tidur dengan istri teman-temannya.

“Bagiku, kawan, kelamin itu jauh lebih penting dibanding dengan seorang teman.”

Terkadang muncul muak dan mualku juga dengan ceritanya itu. Tapi, saat mencoba lebih jujur, penyebab mualku bukan karena sekadar soal ia terlihat tidak bermoral di mataku. Namun, lebih karena alasan iriku saja padanya. Betapa tidak, dalam usia kepala tiga belum pernah menyulap milikku menjadi belut yang melobangi tanah keras, seperti istilah yang kerap disebut Darto.

***

Tiga Minggu sudah aku tidak bersua dengan bapak itu–aku memanggilnya dengan sebutan bapak tentu dalam hati saja–. Biasanya ia kerap lewati kontrakanku, dan singgah kalau melihatku sedang menghayal menjadi orang kaya, di depan pintu.

“Angkat… angkat! Bawa ke musholla! saja.”

“Hubungi keluarganya saja dulu!”

“Tunggu sampai polisi datang!”

Ah, Darto mati persis di rumah depan kontrakanku. Rumah Surti, pelacur yang kerap membawa dagangannya dekat dengan rel kereta api di sebelah sana. Dengan lugu, aku mengira, pasti tanah milik Surti pasti lebih keras daripada kekuatan belut Darto.

Tidak juga, ternyata. Darto mati karena menenggak obat kuat berlebihan.

Palmerah, 17 Juni 2011

Posting Komentar
Adbox