dunia lain untuk bicara

22 Juni 2011

Lelaki dan Hati Sisa Makanan Anjing

Sekerat hatinya pernah dimakan anjing. Lalu, ia memilih berjalan membawa hati yang tak layak lagi disebut sebagai hati yang utuh. Pikirannya sedang tidak pikirkan apa-apa selain pergulatan, apakah ia sekarang membawa hatinya sendiri atau memang itu sebenarnya benar-benar makanan anjing. Sisa anjing.

Rambutnya sedikit mirip dengan aroma selokan yang kerap menampung aliran air kencing dari kamar mandi di rumah yang ditumpanginya. Hidungnya berongga lebar. Sedikit berlebihan karena setiap ia bercermin, entah kenapa ia merasa selalu melihat lobang hidungnya lebih besar dari mukanya. Sedang hidungnya dirasakan sendiri olehnya lebih tinggi dari kemampuan otaknya. Ia tidak percaya diri menyebut hidungnya bangir, mancung atau apapun yang sejenis dengan penyebutan itu. Mulutnya pun, terkadang ia rasakan memiliki aroma tidak lebih enak dihirup daripada septic tank yang tidak pernah dikuras selama sepuluh tahun.

Kadang-kadang, ia memaksa diri untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. Meski saat ia melihat mata orang-orang ketika melihatnya, sinar cahayanya benar-benar mirip saat mereka melihat anjing kurap yang lewat. Dari sana, ia kerap menyisihkan dirinya.

Memaksa diri menumbuhkan kepercayaan diri dengan mengatakan pada diri sendiri, otaknya yang tidak lebih panjang dari hidungnya itu sebagai sebuah keunikan. Lobang hidung yang lebih besar dari mukanya ia paksa-paksakan untuk ia yakini sendiri sebagai sebuah bentuk seni dari Tuhan. Dan bau mulut yang beradu sengat dengan septic tank itu coba diyakini sebagai sebuah aroma yang sangat layak disebut kelebihan. Tanpa alasan.

Tetapi, kepercayaan diri yang dipaksakan ternyata memang tidak berarti apa-apa. Terbukti, dadanya terlihat semakin turun. Pundaknya semakin terlihat lebih tinggi. Sangat tidak proporsional. Seperti ada beban yang terlalu berat untuk ia pikul. Beban yang terkadang ia coba ceritakan pada orang-orang. Sayangnya, orang-orang yang ia temui tak bisa didikte untuk melihat juga bahwa itu benar-benar cerita nyata. Justru, entah mungkin mereka lebih jernih dalam melihat, maka ceritanya lebih terlihat sebagai keluhan. Semakin sempurnalah perasaan terhinanya sebagai seekor anjing.

Tuhan aneh, tadi hanya hatinya yang dimakan anjing. Pada waktu yang tidak terlalu lama, malah ia sendiri yang menjadi anjing.

***


Saat sedang mencoba mengais plastik sisa kerupuk yang baru dibuang anak manusia dari jendela mobil yang tidak ia kenal warnanya. Ia kerap merutuk.”Manusia itu, kerupuk termurah pun dijilat sampai bersih. Apalagi yang bisa kujilat?” Pertanyaan yang memang tidak akan didengar siapa-siapa. Mungkin termasuk Tuhan.

Entahlah.

Dan ketika ia berada di dapur rumah seorang pemulung yang kerap ia temui memungut sampah setiap pagi bersamaan dengannya. Walaupun di sana ia hanya menghirup aroma ikan asin sambil membayangkan bahwa ia sedang ikut menyantap lahap makanan itu, justru air panas yang disiram istri pemulung itu. Diikuti pemulung itu sendiri yang mengambil tempurung kelapa yang mirip kutang istrinya. Kepala anjing malang itu kena. Retak. Tak terhenti di situ, hatinya pun retak.”Betapa, ketika sedang berkelebihan, seorang pemungut sampah sekalipun bisa menjadi angkuh!”

Selanjutnya, anjing jelang dewasa itu hanya bisa berlari-lari kecil bersama kepala dan hati yang meretak. Mengaing-ngaing. Suara yang sepertinya tak pernah punya daya menembus kuping siapapun. Apalagi hati.
Seorang lelaki yang kerap mengamati anjing tersebut berjalan ke sana kemari, lalu menulis sajak singkat;

Apapun alasannya, seekor anjing takkan membawa takdir malaikat.
Apapun dalihnya, seekor anjing takkan membawa keberuntungan seorang nabi.
Anjing, sayangnya tetap hanya akan membawa takdir sebagai seekor anjing.

Lelaki itu sendiri bukan lupa, bukan tidak tahu. Tetapi karena memang juga sudah tidak berotak. Maka ia tidak peduli, seekor anjing belum pernah belajar memahami kata-kata.

Jakarta, 10-10-10

Also Published in: Kompasiana
Posting Komentar
Adbox