dunia lain untuk bicara

04 Juni 2011

Koruptor: Produk Pendidikan Indonesia

Terlintas di pikiran saya sebuah bayangan kelelahan sekian banyak guru. Terduduk di satu sudut sebuah tempat. Mungkin di sekolah-sekolah yang sudah berusia tua. Kepala mereka rebah di telapak tangan. Melamun, atau bahkan meratap. Lelah dengan peluh tidak berbanding seimbang dengan hasilnya. Bukan soal gaji yang ia peroleh, walau itu masih menjadi masalah di negeri ini. Akan tetapi pendidikan yang seakan turut andil mencetak koruptor!

Boleh jadi terlalu sarkastik, atau bahkan sadis kalau menyebut bahwa koruptor itu dicetak oleh pendidikan. Apalagi, bagi yang pernah menggeluti ilmu pendidikan, tujuan darinya sama sekali bukan untuk menciptakan manusia yang kerap menjadi momok itu. Justru untuk menciptakan manusia–dalam bahasa saya–yang sadar dengan cerdas akan kemanusiaannya dan kelak bisa mengabdi pada kemanusiaan.
Sedang yang dipampangkan dengan telanjang hari ini, pendidikan melahirkan produk terburuk bernama koruptor.

Tapi pendidikan dengan segala sistem yang dicoba lahirkan itu bukankah tidak ditujukan untuk melahirkan manusia model begitu? Mungkin Anda tertarik untuk menyela demikian. Baik, secara tujuan memang tidak secara gamblang ditujukan untuk melahirkan manusia-manusia seperti itu.

Hanya saja, saya tertarik untuk mengajak melihat satu sudut remang yang ada di dunia realitas pendidikan kita. Menyebut bahwa pendidikan Indonesia–misal-ditujukan untuk menciptakan sumber daya manusia yang cerdas dan kelak bisa mengabdi untuk bangsa dengan bersandar pada Pancasila (lagi, bahasa saya). Sebutan itu sangat indah. Barangkali yang dilamunkan setiap guru memang demikian.
Cuman, harus dilihat juga lagi dengan lebih jujur. Dari mana semua itu bermula. Jika bisa mengiyakan bahwa pendidikan itu adalah ‘nutrisi’ untuk pikiran. Maka, nutrisi yang baik tidak mungkin akan memberi buah yang buruk. Sesuatu yang disusun dengan cara yang baik, konsep yang baik, sulit dimengerti kalau kemudian berbuah buruk.

Lantas? Masih banyak sekali kekeliruan yang membutuhkan mata batin yang lebih berdaya bahkan melebihi mikroskop. Guna melihat berbagai celah yang barangkali selama ini luput terlihat. Agar tidak sampai lagi ada tudingan bahwa lahirnya sekian banyak koruptor tidak lepas dari andil pattern pendidikan di negeri ini. Pendidikan yang sulit didefinisikan.

Apakah mungkin kita bisa sedikit lebih lembut untuk melihat bahwa sekian banyak ‘arsitek’ pendidikan di Indonesia, sebenarnya sudah mencurahkan pikiran yang tidak setengah-setengah? Untuk sekadar melihat dengan sudut pandang lebih lembut memang mungkin saja. Toh, kita jamak sepakat, semua hal memang selalu memiliki ruang kemungkinan. Hanya saja, ‘kelembutan’ begitu saya takutkan hanya membuat mereka kian cepat berbusung dada. Sedang yang lahir kemudian, selalu dan selalu saja, tidak lebih dari orang-orang terkenal. Andai terkenal karena prestasi, memang itu yang sangat diharapkan. Sebaliknya, justru yang kerap terjadi tidak lebih, anak-anak yang masih di sekolah dasar pun lebih familiar dengan nama-nama koruptor daripada nama-nama ilmuwan.
Apalagi yang kita tunggu?
Posting Komentar
Adbox