dunia lain untuk bicara

21 Juni 2011

Bukan Sekadar Sajak Cinta

Dari Jalanan Aceh ke Jakarta

Benih Bunga di Tangan Berdebu
genggam saja tanganku meski sedikit berdebu
jika kau percaya ini bukan ranting kering yang dilapuki waktu

atau kau ingin usap peluhku dulu
untuk kau bisa lebih tenang nanti rebah di pundakku

tapi peluh itu hanya kering untuk kau singgahi juga dadaku
agar tak basah lagi hati di balik itu oleh kelu

selepas itu aku akan pecahkan semua bisu
selepas itu kita tapaki lagi jalan ke ladang yang ingin kita tuju

jangan terpaku ngeri pada kerasnya batu
bila kau percaya tanganku belum menjadi dahan layu

yakin saja, masih kuat kusingkirkan batu
masih sanggup kutabur benih bunga hingga seribu
ketika lembut tanganmu masih menyatu di dada, pun tanganku
--------------
Bila Jalan Telah Penuh Debu
ada jalanan yang berdebu
dengan langkah yang masih tetap bisa berlalu

ada waktu pilu membatu
dengan sejarah yang tertinggal di masa lalu membatu

ada perjalanan dalam kelu
dengan resah yang hilang dalam bisu

apalagi yang detik ini membuat kita harus ragu
bahwa rerumputan akan melayu
sedang bunga takkan musnah indahnya hanya karena beberapa butir debu

berjalanlah pada titik yang tidak terlihat semu tanpa takluk dalam jemu
jika lelah, kau boleh bersandar di dadaku

jakarta 271210
-----------------------

Puisi yang Tertulis dengan Rumput

setiap pagi, kutulis puisi pada dedaunan
yang tumbuh di pucuk hatimu yang selalu berembun
di sana, kukira puisi itu bisa menjadi bunga yang akan mendapat cukup cahaya
untuk tumbuh
dan kelak ketika sudah berakar seribu
aku ingin bisa melihatnya menjadi taman
jangan takuti rerumputan
dan jangan cerabut ia
sebab rumput juga bisa membantu bunga untuk terlihat lebih indah
dan, memang rumput tidak perlu menjadi bunga dan memang takkan pernah

seperti itu juga kumelihatmu
kau, bidadari yang terlahir sebagai manusia
tidak pernah kupaksakan kau untuk menjadi peri
tidak juga menjadi yang mahasempurna
sebab, kau dengan segala yang ada
adalah alasan untuk kutuliskan puisi ini
yang kuharap menjadi air untuk lebih mekarkan semua bunga itu
hijaukan semua daun itu.
------------------------------
Sajak Bara
Kekasih, tanpa kalung mutiara, tetapi kau adalah ratu
tanpa gemerlap istana kau tetap menjadi cahaya
meski tanpa gaun yang melelahkan seribu penjahit, kau tetap mengagumkanku
oleh langkah bersama senyum yang tak hanya kau lempar dari bibir
tetapi kau ukir dari sebentuk hati yang semerah bara
yang selalu hangatkan hatiku
---------
Pernah bergiat di beberapa forum sastra, fordisastra dan cybersastra. Beberapa puisinya dimuat di Antologi Puisi Kemayaan dan Kenyataan, juga Antologi Puisi Tsunami Kopi. Sekarang bergiat di Kompas Cyber Media, sebagai Comm Moderator untuk kompasiana.com.

Also Published in: Kompas.com
Posting Komentar
Adbox