dunia lain untuk bicara

07 Juni 2011

Bukan Parodi: Ada Udin di Balik Batu

Kita berada di sebuah negara yang penduduknya usil. Saking usilnya, entah terinspirasi dari dampak andai kulit pisang dicampakkan sembarangan, di mana-mana banyak orang terpeleset. Tak berhenti di situ, yang melihat orang terpeleset pun menciptakan bermacam parodi. Entah untuk popularitas, kepentingan politis, atau sedikit santun karena alasan seni.

Dulu, awal-awal Indonesia mereka tercatat beberapa nama yang memiliki ujung “din” atau “uddin”. Kalau menebak-nebak masa kecil mereka, andai pun pernah dipanggil dengan panggilan Udin, ya waktu kecil saja. Namun kemudian dengan dedikasi dan perjuangan mereka untuk bangsa. Justru nama mereka selalu disebut utuh. Misal saja, Sjarifuddin Prawiranegara yang konon saat tongkat republik yang dalam keadaan darurat berada di tangannya, ia enggan disebut presiden. Menolak.

Sedang hari ini. Ada saja orang-orang yang berpendidikan tinggi. Pernah menjadi orang-orang yang dipandang berwibawa-seorang hakim di segani sekalipun–tak pelak harus berlapang dada, saat di banyak tempat di pinggir-pinggir jalan, namanya pun dipelesetkan. Sampai, ya dipanggil dengan panggilan Udin saja. Tanpa respek.
Jadi teringat pesan sederhana orang tua jaman dulu. Kerap mereka memberi nasihat kepada anak-anaknya,”Jaga namamu. Jaga nama keluargamu. Jaga nama negaramu.”

Ah, pesan itu memang sederhana, kalau dilihat dari ukuran kata dalam nasihat itu yang cuma beberapa.
Tetapi, tunggu!

Tidak perlu kalimat terlalu panjang untuk bisa memberi suatu pesan. Cukup beberapa kata ringkas saja sudah memadai. Terlalu banyak menabur kata-kata justru memberi konsekuensi tidak baik. Boleh jadi soal kemampuan mengingat setiap orang yang jelas berbeda. Kemudian, kondisi seseorang saat menerima pesan yang sulit diterka. Sampai, kaidah umum yang menyebut bahwa sesuatu yang dipaksa untuk ditelan berlebihan, hanya membuat mual saja. Tidak hanya makanan. Namun, termasuk nasehat seperti yang disebut tadi.

Dalam hal ini, saya menjadi seorang yang tradisionalis (?). Artinya, memang selalu merasa dan yakin bahwa berbagai hal sederhana yang pernah dikeluarkan oleh orang tua jaman dulu, tidak patut dilihat dengan pandangan sederhana pula. Sebab, yang terjadi kemudian hanyalah penyederhanaan. Tentu saja, sesuatu yang terlalu disederhanakan akan sama juga dengan sesuatu yang berlebihan. Tidak enak dilihat.

Merenung-renung soal wasiat dari jaman entah kapan dimulai itu. Saya, meski belum terhitung tua, namun bersyukur bisa mendengar kalimat sederhana tadi: jaga nama.

Dalam nasihat sederhana demikian. Yang dibutuhkan adalah hati yang bisa membaca dari–bahkan–satu huruf pun. Telinga yang bisa dipastikan mampu mendengar. Kemudian, pastinya, ikrar pada diri sendiri untuk bisa laksanakan pesan itu.

Menyimak ulang yang saya tuliskan sebelumnya di atas sono. Merasa-rasai ulang beberapa nama yang kerap dimuat di koran setiap hari harus melihat nama-nama yang sama selalu (ada Udin di balik batu). Akhirnya saya melihat. Kita, di mana-mana memang punya potensi untuk menyulap nama laiknya kulit pisang. Bikin terpeleset! Rentan!
Posting Komentar
Adbox