To Learn and Inspiring

Pengunjung

Bentara Budaya Jakarta: Saat Cerpenis Nasional Menyulap Peluhnya


Panggilan di seluler saya masuk, nama Herman RN muncul di layarnya. Dari rekan yang lama bergumul di dunia sastra Aceh itu saya mendapat kabar, ia menjadi salah satu yang masuk nominasi. Ini mengindikasikan Herman sudah masuk dalam barisan cerpenis nasional. Saya takjub! Selain, panggilan telpon darinya juga saya jadi ingat kembali bahwa acara Penghargaan Cerpenis Terbaik Kompas 2011 diadakan malam ini.

Mengetahui Herman sudah berada di Bentara Budaya. Bergegas saya turun dari lantai 5, keluar dari ruang kompas.com usai tunaikan shalat magrib. Beruntung, ID card Kompas yang saya miliki membuat saya lebih leluasa untuk bisa penetrasi ke lokasi. Meskipun sebenarnya tidak ada undangan resmi untuk saya ke sana. Namun, karena kegembiraan bahwa rekan satu daerah saya, dari Aceh, Herman RN masuk nominasi. Saya pasang ID card di leher dan masuk saja ke lokasi acara.

Setiba di sana, Herman RN sedang berdiri sambil utak-atik selulernya. Sepertinya ia sedang berkomunikasi dengan teman-teman lain. Saya maklumi, ia cukup dikenal di Aceh sebagai anak muda yang memiliki dedikasi di sastra. Hampir setiap kegiatan yang berhubungan dengan sastra, bisa dipastikan keterlibatannya.

Setelah bincang-bincang beberapa jenak. Salah seorang panitia meminta Herman untuk segera ke barisan paling depan. Berjejer bersama sastrawan-sastrawan yang sudah lama malang melintang di dunia sastra nusantara. Pun, mereka juga berusia rata-rata puluhan tahun di atas usia Herman yang masih kisaran jelang kepala tiga.

Di panggung, Putu Fajar Arcana menyampaikan sambutannya. Di sana ia sedikit bercerita tentang fenomena yang berkaitan dengan dunia sastra dan kesediaan Kompas untuk tetap membuka ruang sastra di halamannya. Fajar Arcana menyebut bahwa setiap harinya, Kompas menerima cerpen berkisar 10 (sepuluh). “Jadi kalau setahun, kami menerima cerpen sekitar 3600 cerpen,” jelasnya.

Sampai akhirnya, setelah beberapa sambutan dari petinggi Kompas. Wajah peserta acara di sana terlihat mengencang saat MC memberitahukan acara puncak pemilihan Cerpenis Terbaik Kompas 2011 dimulai. Semua kandidat diminta ke panggung. Lagi, saya melihat Herman RN berdiri di antara senior-senior sastra Indonesia. Tiba-tiba saja saya terbayang kampung halaman, Aceh. Berdoa, ke depan kian banyak pemuda Aceh yang memiliki ketertarikan pada ranah sastra yang menurut saya merupakan sebuah sisi yang bisa pulihkan ‘muka’ Aceh.

Betapa tidak. Selama ini Aceh kerap diidentikkan dengan dunia yang keras. Sebagai daerah dengan penduduk yang kerap disebut-sebut sebagai tanahnya manusia yang memiliki selera membunuh. Lengkap dengan sejarah perang yang nyaris selalu hiasi sejarahnya. Bagus andai hal demikian bisa dilihat positif bahwa ureung Aceh memiliki sikap dan keberanian.

Nah, sastra dalam pandangan saya adalah kutub yang lebih beradab dari perang. Sastra bisa menjadi alat pengubah. Sampai, tidak lama setelah kembali dari lokasi acara dimaksud, saya menulis di Facebook,”Sastra itu pedang yang tidak menumpahkan darah. Tetapi kuasa taklukkan musuh!” di sela-sela komentar dan ucapan selamat dari rekan-rekan saya di Aceh untuk Herman RN yang malam ini bersanding dengan Seno Gumira Ajidarma yang muncul sebagai jawara dengan cerpennya: Dodolitdodolitdodolibret.


Dewa Bujana, Soimah, dan Sujiwo Tejo sampai Garasi

Meski terkesan sebagai acara yang sangat fokus pada tema pemilihan cerpenis terbaik. Penyelenggara terlihat kreatif mengisi acara tersebut dengan penampilan-penampilan seni kolaboratif. Dewa Bujana yang gitaris grup band GIGI bersanding dengan budayawan Sujiwo Tejo dan Soimah yang sering disebut sebagai pesinden kontemporer.

Sayangnya, saya sendiri tidak terlalu pahami beberapa lagu yang mereka nyanyikan. Karena nyaris sebagian besar lagu-lagu yang dihadirkan berbahasa Jawa. Kecuali dalam beberapa jenak ketika Sujiwo Tejo berdialog di sela-sela nyanyian mereka memakai bahasa Nasional. Tejo berguyon menyebut Soimah sebagai perempuan kampung. Guyon yang disambut dengan ledekan-ledekan khas Soimah, apalagi saat Sujiwo Tejo mengeluarkan umpatan khasnya,”Asu!”

Tak ayal Dewa Bujana yang dikenal pendiam, atas aksi Sujiwo Tejo menyebut budayawan itu sebagai budayawan gendeng (tapi diejek dengan bahasa yang bersahabat).

Atas bahasa-bahasa kasar yang selama ini kerap dipergunakan Sujiwo Tejo. Budayawan ini memiliki kilah yang menurut saya masuk akal,”Indonesia butuh orang-orang yang bisa bicara apa adanya. Ketika kau ingin sebutkan asu, ya sebutkan asu. Tidak perlu dihalus-haluskan. Menyebut bangsat ya sebut saja demikian kalau memang kenyataannya demikian,” Ini kalimat yang menurut saya sangat inspirasional dari yang diucapkan Sujiwo Tejo.

“Ke depan, saya membayangkan nusantara ini seperti ini. Memiliki rakyat yang bisa bicara apa adanya!” Tegasnya sebelum melanjutkan lagu-lagu yang lebih banyak berisi bahasa Jawa. Kembali saya harus sedikit pusing karena sama sekali tidak mengerti bahasa tersebut.

Sebelum Dewa Bujana Cs hadir ke panggung di penutupan tersebut. Teater Garasi terlebih dahulu muncul dengan pementasan diambil dari cerita Seno Gumira Ajidarma, Dodolitdodolitdodolibret. Di sana, pemain lakon tersebut berseragam putih-putih dan menceritakan tentang Guru Kiplik yang mendedikasikan diri untuk mengajarkan doa yang benar pada orang-orang yang dipandangnya salah berdoa selama ini. Setelah merasa selesai memberikan pelajarannya, Guru Kiplik merasa tugas mulianya sudah selesai. Sampai ia pergi ke suatu tempat dengan mempergunakan perahu. Yang terjadi, mereka yang disangka sebagai muridnya dan butuh pengajaran memang merasa masih butuh guru, mengejar Guru Kiplik. Bedanya, guru mereka itu masih pergunakan perahunya untuk bisa lewati samudera. Murid-murid tadi malah sudah bisa berjalan dalam air. (ZA)
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?