To Learn and Inspiring

Pengunjung

Andai Habibie Menikah (Lagi)

Ini keusilan kita. Sebab, kalau menyebut soal usil itu milik "mereka", khawatir keusilan itu terkesan cuma bisa dilakukan oleh orang-orang yang berada entah di dunia mana. Menyebut keusilan kita, maka lebih tegas terlihat bahwa itu ada memang dekat dengan kita. Boleh jadi memang sudah menyatu dengan kita.

Habibie. Karena saya merasa sebagai seorang rakyat yang masih lugu. Jadi, dalam melihat beliau, ya tidak jauh dari saya. Maksud saya ya, beliau lugu. Konon, sesuatu terlihat sebagaimana kemampuan orang melihat.

Nah, saya kebetulan memang belum memiliki kemampuan melihat lebih. Makanya melihat Pak Habibie lugu.
Eh, jangan bilang saya sedang ingin merendahkan beliau, ya. Sebab, yang saya tahu orang lugu itu tidak tertarik untuk macam-macam. Misal saja saya, kalau sedang makan, ya mengambil lauk satu jenis saja. Sebab, kalau mengambil lebih dari itu, bukannya saya tidak doyan. Tapi, kebingungan sendiri harus telan yang mana nantinya. Beda halnya kalau saya pilih satu saja, nanti tidak harus alami kebingungan mana  yang harus didulukan.

Gerutuan saya pagi ini yang seperti ini, bukan karena apa-apa. Tetapi karena melirik di beberapa situs berita yang bawa-bawa nama mantan presiden itu. Andai disandingkan dengan isi berita yang bisa membantu rakyat untuk terangsang memupuk jiwa dan otak agar  bisa--sedikitnya--berdekatan dengan kualitas otak beliau. Mungkin masih bisa dibenarkan. Malangnya, berita itu disandingkan dengan isu bahwa beliau yang saya sebut lugu ini ingin menikah lagi. Isu jadi berita. Maka orang-orang seperti saya malah pagi-pagi harus cari obat sakit kepala agar tidak sampai mual-mual cuma untuk berpikir tentang: mana isu dan mana berita?

Padahal, romantisme Habibie dan Ainun, itu memiliki magnet, lho. Maksud saya ya, mampu menarik perhatian rakyat di negeri ini. Bahwa masih ada cerita cinta yang tidak melulu jadi dagelan telenovela. Tetapi, sebuah cerita yang benar-benar ada. Tentang lelaki bertubuh kecil, namun berpikiran besar. Yang rela mati-matian berkorban untuk mendapatkan tambatan hatinya.

Cerita nyata begitu lumayan menjadi obat juga untuk rakyat. Untuk tidak larut dengan carut-marut politisi dan pemimpin yang diam-diam cuma bisa memberi rakyat kado berupa "kentut" (lho).

Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?