To Learn and Inspiring

Pengunjung

Ulee Lheue: Geliat Malam di Banda Aceh


Hanya dengan mengendarai sepeda motor. Bersama dengan Nazaruddin, salah seorang mahasiswa kedokteran di Universitas Abulyatama Banda Aceh. Saya mencoba merekam Banda Aceh. Berikut catatannya.

Malam Minggu menjadi malam yang selalu ramai di hampir setiap belahan Indonesia atau bahkan dunia, barangkali. Demikian juga Banda Aceh yang akhir-akhir ini menggaungkan wacana Wisata Islami. Di sepanjang jalan Lampineung ke Ulee Lheue, saya mengamati jalan demikian ramai, sesak oleh kendaraan yang kebanyakan juga hanya roda dua saja.

Kendati gema syariah Islam di Aceh sudah terdengar bahkan sampai ke tingkat pemberitaan dunia. Namun, harus saya akui, gema tersebut memang mirip seperti Rapa’ie, jenis alat musik yang bertutup di sisi untuk dipukuli saja. Sedang di belakangnya kosong sama sekali.

Hal demikian-kosong yang dimaksud– dibuktikan dengan pemandangan yang saya lihat malam ini (23). Konsep wisata Islami dan Syariah Islam yang sudah jauh-jauh hari digemakan tidaklah seperti yang terlihat sebenarnya. Seyogyanya dengan kebijakan yang sudah meluncur hampir satu dekade itu bisa tercermin di lapangan, sama sekali tidak seperti yang diharapkan.

Mengunjungi Ulee Lheue selepas Isya. Kawasan ini merupakan salah satu tempat yang cukup dikenal di Aceh. Yang terlihat demikian mencolok adalah pada tata krama pergaulan lain jenis yang dalam Qanun secara tegas diberikan ketentuan untuk tidak berkhalwat. Sedang yang saya saksikan sendiri malam ini, justru berkebalikan dari itu. Ulee Lheue menjadi salah satu tempat yang dalam remangnya memperlihatkan regulasi tersebut dikangkangi. Di pinggir-pinggir pantai, pasangan muda leluasa beradu bibir laiknya Kate Winslet dan Leonardo di Caprio di film Titanic.

Nazaruddin (21), “Kalau pemandangan seperti ini, selalu ada bahkan setiap malam Minggu. Dan ini di sini sudah tidak dianggap aneh lagi.” Sedang salah seorang rekan mahasiswa Pasca Sarjana Unsyiah yang tidak ingin disebut namanya menuturkan,”Gambaran seperti ini sudah ada sejak jauh-jauh hari ketika Syariat Islam belum diberlakukan. Saya sendiri tidak menemukan sesuatu yang berbeda antara dulu dan sekarang.”

Ulee Lheue, idealnya memang menjadi kawasan wisata yang sangat layak dikunjungi. Menjadi tempat yang sangat tepat menjadi tujuan agar bisa melepaskan tubuh dan pikiran dari kepenatan sehari-hari. Hanya saja, sangat disayangkan ketika tempat ini kemudian menelanjangi qanun-qanun yang sudah diatur pemerintah Aceh. Terkait ini, seorang rekan akademisi di Unsyiah hanya berujar,”Ini memang menjadi sebuah dilema tersendiri bagi pemerintah Aceh. Satu sisi ingin memajukan Aceh, termasuk di dalamnya pariwisata. Sedang di sisi lain harus berhadapan dengan pengangkangan dan pembangan terhadap qanun itu sendiri.” Sedang dalam hal keberadaan Polisi Syariat yang awalnya ditujukan untuk mengawal Qanun (Perda), Saifuddin Bantasyam, salah satu Dosen Fakultas Hukum Unsyiah pernah mengatakan dalam Seminar Policy Analysis beberapa tahun lalu,”Polisi Syariat jelas tidak bisa berbuat banyak. Sebab untuk mereka bisa bekerja, tak bisa dipungkiri membutuhkan dana tidak sedikit. Sedang sekarang mereka tidak memiliki dana memadai untuk operasional mereka. Apa lagi yang bisa diharapkan?”

Entahlah, semoga saja Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kota Banda Aceh bisa menemukan alternatif kebijakan di tengah dilema demikian.

Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?