To Learn and Inspiring

Pengunjung

Sisi Lain Jurnalis dalam Catatan S. Broder

Melenggang tanpa membawa kangkung di seputaran Blok M, persis sehari sebelum saya menjadi bagian kru di dapur Kompasiana. Mata saya seketika berubah nyalang melihat tumpukan buku-buku di lantai dasar salah satu mall di sana. 
 
Jujur, memang bukan karena bukunya saja, tetapi lebih karena melihat harganya yang demikian memancing. Apalagi kalau bukan karena harganya yang demikian miring. Tak ayal membuat pikiran saya ikut miring. Karena jelas kantong sedang menipis tapi tetap saja wujudkan keinginan, agar beberapa buku segera berpindah ke tangan saya.

Dari 3 buku yang saya ambil dengan total harga 40.000 (sedang kalau harga normal, saya taksir ini butuh 200.000), buku yang ditulis oleh David S. Broder yang terlihat oleh saya demikian menggairahkan. Di sampulnya bertuliskan judul yang memakan tempat setengah halaman cover: Berita di Balik Berita. Atau, judul aslinya Behind the Front Page, A Candid Look  at How the News is Made.
Bagaimana tidak, penulisnya itu adalah seorang kolumnis yang telah pernah mendapatkan hadiah Pulitzer. Sebuah hadiah yang kerap menjadi mimpi yang lebih disenangi setiap jurnalis melebihi senangnya atas mimpi basah (perbandingan yang sedikit saya paksakan).

Kemudian lagi, S. Broder yang sudah mendunia sebagai seorang jurnalis kolumnis yang bisa disebut paham sekali peta politik Amerika. Sentilan-sentilannya tentang dunia politik Amerika meraja di Washington Post bahkan sampai puluhan tahun. Tentu itu sebuah capaian yang tidak sederhana. Tak heran Washington Post sendiri menyebut S. Broeder sebagai maestro di antara wartawan politik sekaligus seorang wartawan ulet dengan kemauan bekerja yang tinggi dan penuh antusiasme.

Lantas, apa saja yang menarik dari figur tersebut dengan buku yang saat saya tulis ini memang berada persis berhadapan dengan saya itu? Kelugasannya. Ia enteng saja mengeluarkan kata-kata yang sangat membumi. Tidak sekadar yang berhubungan dengan persoalan politik yang merupakan spesialisasinya. Namun, bidikannya dalam melihat jurnalis dan berbagai hal tentang kuli tinta (sebutan terakhir; kuli tinta, sepertinya sudah kurang tepat ya? Karena tidak semua jurnalis sekarang pergunakan tinta untuk mencatat hasil reportasenya).

S Broder bercerita tentang kawannya yang tidak peduli dengan berbagai berita. Kawannya tersebut ke mana-mana hanya andalkan apa kata orang saja. Baik tentang cuaca, soal keamanan, dan berbagai hal lainnya. Bisa disebut sama sekali tidak memiliki interest sedikit pun dengan berita tertulis. Justru cuma percayakan model info ala obrol-obrol saja. Dari ceritanya tentang kawan dekatnya itu, ia menyentil dirinya sendiri yang berkutat sebagai jurnalis. Sebelum tidur mendekat dengan berbagai hal yang berkaitan dengan berita. Bangun tidur juga yang diburu adalah berita, setidaknya berita radio.

Pontang-panting. Ia mengisyaratkan pewarta, jurnalis atau wartawan sebagai orang-orang yang diperbudak oleh berita. Tentu itu juga merupakan gambaran seperti apa dedikasinya yang memang tidak setengah-setengah dalam menceburkan dirinya dalam samudera berita.

“Menjadi wartawan hanya membawa diri untuk menjadi manusia yang harus menelan rentetan kerisauan demi kerisauan,” katanya dalam salah satu halaman buku yang diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan tersebut. Contoh sederhana saja, betapa S. Broder harus merasakan putusnya sebuah tali persahabatan. Itu terjadi cuma karena Broder berbicara dengan kawan karibnya itu lengkap dengan pertanyaan karena memosisikan dirinya tetap sebagai seorang wartawan. Sedang kawannya tersebut berbicara sebagai sahabat dengan sahabat.

Apa yang terjadi? Yang satu ingin beritakan hasil obrolan karena memang berhubungan dengan masalah krusial. Sedang yang satu lagi berkeberatan karena menyangkut dengan “asap dapur”. Dilema itu pulalah yang kemudian membawa pada terputusnya persahabatan yang telah terajut dari sejak mereka masih sama-sama kuliah.

Pada dasarnya, buku yang memikat saya ini memang tidak secara sendirinya bercerita tentang dunia wartawan saja. Tetapi, oleh latar belakangnya sebagai seorang wartawan politik Amerika, tak pelak yang banyak tersaji adalah berbagai hal yang berkaitan dengan perpolitikan di Amerika. Berbagai berita yang sebagiannya memang tidak terberitakan.

Hanya saja, ketika ia mengulik bagaimana seorang wartawan harus bersikap. Antara berbagai hal yang ada di sekeliling seorang wartawan sebagai seorang manusia, dengan posisinya yang menuntut untuk memberikan totalitas dalam pekerjaannya. Masuk akal, kalau dalam satu halaman selanjutnya ia menyebut,”Mereka yang berpikiran sehat takkan memilih kewartawanan sebagai profesinya!” Pertanda apa itu? Tidak ada tanda apa-apa terkecuali kalau memang sudah memberikan diri pada dunia dimaksud.
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?