dunia lain untuk bicara

10 Mei 2011

Potret Ketertinggalan Gampoeng di Aceh Barat


Diapit oleh Krueng Meureubo dan Gunung Sikundoe, terlihat posisi Gampong Canggai sangat menarik, menenangkan dengan udara yang jelas jauh dari polusi. Ditambah dengan kondisi alam yang bisa dikatakan masih sangat asri dan belum begitu berubah sebagai sebuah gampong pedalaman. Dari atas Gunung Canggai yang berdiri menyambut tamu yang datang, terlihat wajah gampong yang dikelilingi oleh pesawahan.

Hal menarik lainnya, nilai-nilai keacehan masih cukup kental ditengah masyarakat gampong tersebut. Saat malam, kita masih bisa melihat anak-anak yang mendatangi balai pengajian untuk mengikuti proses belajar membaca al Quran. Mengingatkan kita pada pemandangan yang sering hanya terlihat pada dekade 80an. Disaat banyak gampong lain yang pernah saya kunjungi di Aceh sudah mulai kehilangan potret seperti ini. Tetapi itu semua masih terus dipertahankan oleh masyarakat Gampong Canggai. Untuk orang dewasa mereka biasa melakukan kegiatan meudala’e (baca: dalail khairat) ataupun berlatih Seni Rapa’ie.

Namun, diakui tidak terlalu banyak orang yang mengetahui keberadaan desa tersebut. Bahkan oleh orang Aceh sendiri. Hal itu logis saja menyimak posisi gampong tersebut yang berada pedalaman Aceh Barat. Tepatnya berada di Kecamatan Pantee Ceureuemen, sebuah kecamatan pemekaran
dari Kaway XVI. Pada tahun 2000 Kecamatan Kaway XVI dimekarkan menjadi 3 kecamatan. 2 Kecamatan pemekaran adalah Pantee Ceureumen dan Panton Reue. Dari statistik, Pantee Ceureumen menempati urutan ke-3 sebagai kecamatan termiskin di Aceh Barat. Media massa juga sangat jarang mengekspose gampong-gampong terpinggir Aceh Barat seperti halnya Gampong Canggai.
Untuk menuju ke gampong ini, bisa dilalui lewat dua jalur, lewat Gampong Keutambang dengan menggunakan rakit untuk menuju ke Gampong Lawet terlebih dahulu, rakit tersebut baru ada pada tahun 2006 yang pengadaannya lewat Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Sebelumnya jalan ini hanya bisa dilalui dengan menggunakan sarana titian berupa dua utas kabel. Sedangkan kondisi jalan masih berupa batu dan kerikil.


Gampong Canggai dan tantangan
Pada tahun 2008, saat saya sedang melakukan kunjungan ke Gampong Canggai bersama Tim Riset Yayasan Paramadina Semesta Meulaboh dan Caritas Switzerland, hanya ada sarana jembatan kabel yang dipasang untuk memudahkan anak-anak warga untuk sekolah ke SD yang berada di gampong tetangga, Gampong Jambak.

Saat itu, saya menemukan beberapa persoalan yang sempat diceritakan warga berkaitan dengan permasalahan akses masyarakat untuk bisa mengikuti pendidikan. Salah satunya, seringkali terjadi anak-anak usia SD tersebut terjatuh dari jembatan kabel ini, bahkan tak jarang ada yang cedera hingga mengalami patah.

Senada dengan kondisi itu, jumlah pemuda desa yang berkesempatan untuk bisa menempuh pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi masih sangat minim. Per 2008, dari 117 jiwa dengan 82 KK, hanya ada sekitar 8 orang pemuda desa yang menempuh pendidikan perguruan tinggi. Sehingga, tak heran berbicara bagaimana kondisi pola pikir masyarakat gampong tersebut—mereka istilahkan sendiri—lagee cangguek di yuep bruek (terj: seperti katak dibawah tempurung). Apalagi, memasuki usia 20 saja tak jarang pemuda gampong tersebut sudah terpikir untuk menikah kendati dari sudut ekonomi jauh dari kemapanan.

Pada Juni 2009, kembali saya berkesempatan untuk datang ke gampong ini bersama Tim JKMA Bumoe Teuku Umar dalam Perencanaan Mukim yang diadakan Fauna Flaura International.Saya perhatikan sudah sedikit lebih baik, paling tidak, jembatan kabel yang tahun lalu menjadi satu-satunya jalan alternatif yang bisa diambil oleh anak-anak warga gampong ini untuk berangkat ke Sekolah Dasar di Gampong Jambak, gampong tetangga Canggai yang berada diseberang sungai, sekarang sudah berubah dengan adanya jembatan gantung. Menurut Geuchik Gampong Canggai, Syarifuddin, Jembatan tersebut sudah mulai dikerjakan sejak tahun 2006 dan baru rampung dan bisa dipergunakan akhir 2009.

Saya menemukan beragam keluhan yang dilontarkan warga dalam kaitan dengan tantangan yang harus mereka hadapi. Mereka harus beradaptasi dengan begitu banyak ancaman, seperti binatang buas sampai dengan potensi banjir dan erosi. Tercatat pada tahun 2002 saja, musibah banjir yang terjadi telah menghancurkan rumah penduduk sebanyak 36 unit rumah.
Saat ditanyakan apakah sudah ada semacam bantuan untuk warga yang mengalami musibah tersebut, dengan ekspresi kelu, Sulaiman (25), seorang tokoh pemuda gampong ini mengatakan sama sekali tidak ada. “Pada 2003 kami dengar sudah ada dana untuk penggantian rumah penduduk yang hancur alam musibah tersebut, tetapi sampai sekarang sama sekali tidak ada realisasi.”

Sedang Syarifuddin, Geuchik Gampong Canggai menyebutkan, bantuan yang diharapkan warga hampir terujud, tapi tanpa adanya sebuah kejelasan, bantuan rumah yang jatahnya diperuntukkan kepada warga gampong ini justru dialihkan kepada warga Desa Seuneubok, Kecamatan Johan Pahlawan yang berada persis djantung kota Kabupaten Aceh Barat.


Kesulitan mengakses kesehatan
Saat berjalan menghirup udara pagi di jalan yang bersisian dengan sungai, akan terlihat beberapa penduduk yang berjongkok di sisi anak sungai. Menjadi gambaran sepadan dengan tidak adanya fasilitas MCK memadai dan sesuai standar kesehatan. Selain hanya ada sumur yang dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci. Sumur itupun dibeberapa titik lokasi gampong hanya ada 3 sumur untuk 5-8 KK. Untuk keperluan buang air besar, sebagai alternatif masyarakat disini harus menuju ke sungai yang berada sekitar 500 meter dari pemukiman penduduk, seperti terlihat saat sedang berjalan dijalanan gampong. Terkadang parityang ada disekitar rumah merekapun menjadi jalan keluar dalam keadaan terdesak.

Sedangkan kondisi lainnya, untuk tenaga kesehatan, Idrus yang juga merupakan Sekretaris Mukim Langoe—Gampoeng Canggai merupakan bagian dari Mukim Langoe—,sempat mengeluhkan tentang persoalan itu,”bidan desa yang harusnya mudah untuk ditemui oleh masyarakat. Justru mereka tidak menetap bersama penduduk disini. Jika ada warga yang sakit mendadak, apalagi sakit berat, kalau terlambat sedikit dibawa ke medis, tentu akan berakibat pada kematian. Inilah yang sering terjadi”
Pengakuan beberapa aparat gampong, pernah mereka coba bicarakan hal terkait dengan persoalan akses warga pada kesehatan dengan aparat kecamatan hingga kabupaten. Namun hingga tulisan ini digarap, tapi belum ada sebuah tindak lanjut konkret sebagai jawaban..”kami seperti bicara dengan dinding” keluh seorang warga lainnya.


Mata pencaharian
Dengan mata pencaharian umumnya sebagai buruh tani dan hanya berkisar 20 % sebagai petani pemilik lahan dari 82 KK dengan 117 jiwa. Sekretaris Gampong Canggai, Sarong mengatakan, kamoe cit hana yang peugawai neugri, pakiban jet ke pegawai neugri, pendidikan kamoe rata-rata cit troeh bak SD mantoeng. Aneuek-aneuek kamoe yang kamoe cuba ilah daya jeuet caroeng, kamoe peujoek sikula simampu kamoe. Tapi, watee ekonomi kameukarat, nyeng dara kadang cit kamoe peukawen laju. Peulom, kamoe cit keureuja cit meublang mantoeng (terj: Kami tidak ada yang bekerja di perkantoran. Karena kami sekolah hanya sampai SD saja. Hanya anak-anak kami yang kami harapkan bisa cerdas dengan menyekolahkannya semampu kami. Tapi kalau ekonomi sudah tidak memadai, yang perempuan sering kami nikahkan cepat-cepat. Apalagi kami hanya bermata pencaharian dari petani dengan penghasilan yang tak seberapa).


Bantuan luar
Berbicara tentang bantuan apa saja yang sudah pernah ada dari pihak luar kepada warga gampoeng tersebut. Tgk Abdul Jalil, Imum Meunasah Gampong Canggai mengatakan hanya LSM Qatar saja yang pernah memberikan bantuan berupa pendidikan untuk 2 orang anak yatim. Sedangkan pembangunan jalan sepanjang 3 KM, itu merupakan bantuan dana dari pemerintah lewat Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Jalan tersebut mulai dimanfaatkan pada 2006. dengan masa pengerjaan berkisar 2 bulan.

Selain itu, untuk penguatan aparat gampong dan mukim baru LSM Fauna Flaura International (FFI) dan Jaringan Komunitas Masyarakat Adat Bumoe Teuku Umar (JKMA-BTU) saja yang sudah datang untuk memberikan bantuan berupa pelatihan penguatan kapasitas aparat gampong dan mukim pada pertengahan Juni 2009 ini. ”Satu sisi, bantuan non-materi seperti yang dilakukan FFI dan JKMA BTU juga sangat bermanfaat untuk kami, sehingga kami sebagai aparat gampong lebih paham tentang cara lebih baik untuk bisa mengangkat gampong ini menjadi lebih baik dari yang sekarang. Apalagi kami memang belum pernah sama sekali mendapatkan pelatihan seperti ini sebelumnya, kalaupun ada itu hanya satu dua orang saja yang bisa ikut, itupun harus ke kecamatan.” Timpal Idrus, tokoh desa sekaligus Sekretaris Mukim Langoe—Gampong Canggai merupakan bagian dari Mukim Langoe—.

Miris, mungkin itulah ungkapan yang sangat tepat untuk mewakili kondisi gampong ini. Serta keluguan, itulah potret yang paling kuat memancar dari wajah-wajah penduduk gampong tersebut. Kondisi yang sangat logis ketika dilihat dari posisi gampong yang berada jauh di pedalaman. Mereka sulit untuk mendapatkan informasi dari luar. Media televisi hanya ada 1 unit. Sedangkan koran sama sekali tidak masuk ke gampong ini. Sepertinya, memang Gampong Canggai butuh tangan-tangan terampil untuk mengubah wajah gampong menjadi lebih baik tanpa menghancurkan nilai-nilai lokal yang masih ada. Nilai yang juga merupakan khasanah penting sekaligus kekayaan Aceh. Seperti hadis maja yang dipegang kuat oleh masyarakat gampong, uleue beu matee, ranteng bek patah (terj: ular terbinasakan, ranting pemukul tidak sampai patah).

(Tulisan ini pernah di muat di Harian Aceh)


Posting Komentar
Adbox