dunia lain untuk bicara

24 November 2011

Melirik Lulusan Pendidikan Belanda dari Indonesia


Banyak artikel yang berbicara tentang sistem pendidikan di Belanda. Tidak sedikit yang melihatnya sebagai kelebihan negara tersebut. Menjadi magnet sehingga dari berbagai negara dunia berbondong-bondong mendatangi Belanda untuk belajar. Lantas, ini menarik perhatian saya untuk menelusuri, seperti apa sistem pendidikan di negara tersebut?

Mengulik Google sebagai satu-satunya pustaka yang mudah saya jangkau. Saya 'dibawa' berbagai website yang berbicara tentang pendidikan di Negeri Kincir Angin itu. Melihat sekitar 30 sumber referensi. Agak sedikit tercenung, karena mendapati nyaris tidak ada yang menunjukkan kekurangan seperti apa saja yang mungkin ada di sana. Pertimbangan saya, andai tulisan-tulisan tersebut bisa melihat dari dua sisi, plus minusnya pastinya akan memberikan tawaran lebih untuk kita terkait bagaimana nantinya jernih melihat pendidikan di sana.

Pelan, saya mengangguk. Ini bisa menjadi indikator bahwa pendidikan di negeri tersebut layak dipercaya. Beberapa hal yang dijadikan highlight dari tulisan-tulisan yang saya pelototi itu tidak jauh-jauh dari penjelasan tentang kultur masyarakat di sana yang terbuka, lingkungan studi yang juga inklusif, kualitas pendidikan yang diakui dunia internasional sampai dengan biaya pendidikan dan biaya hidup yang disebut-sebut lebih murah dibanding dengan beberapa negara lain Asia, belahan  Eropa lainnya, sampai ke Amerika.

Lelah mencari-cari kelemahan pendidikan di Belanda, tidak ada yang signifikan untuk disorot. Akhirnya saya memilih untuk melihat seperti apa lulusan Belanda di Indonesia. Saya dapati ulasan tentang seorang perempuan intelek Indonesia yang sudah puluhan tahun mengajar di Universitas Arizona, Amerika Serikat tentang Dr Merlyna Lim. Ia menjadi salah satu potret jebolan dari Belanda, sekaligus lulusan cum laude dari Universitas of Twente di Enschede. Tak heran, Kick Andy, sebagai salah satu acara televisi bergengsi di Indonesia mendaulatnya dalam salah satu episode talk show-nya  (Jumat, 14 Januari 2011 21:30:00 WIB).

Pun Dedy Hermawan Bagus Wicaksono, associate professor di  Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknik Biomedikal Universiti Teknologi Malaysia. Ia juga seorang putra Indonesia jebolan Technische Universiteit Delft.
Namun, ada juga selain itu yang layak diingat, tokoh Indonesia sekaliber Muhammad Hatta yang juga dikenal dengan konsep koperasinya pun merupakan lulusan dari Belanda.
Saya merasa tidak berlebihan kalau saya mengakui, melongo juga melihat potret--yang saya sebut di atas hanya beberapa saja. Jadi terpikir, andai saja lebih banyak pelajar-pelajar Indonesia yang memiliki kesempatan untuk belajar ke sana. Sepertinya juga pantas untuk optimis bahwa mereka bisa mengubah wajah Indonesia menjadi lebih baik, dan tentu saja lebih bermartabat.

Also Published in: Competiblog.com
Posting Komentar
Adbox