dunia lain untuk bicara

12 Mei 2011

Melihat Belanda sebagai "Protagonis"


Harus saya akui, sebagai salah seorang yang terlahir, belajar dan tumbuh di negeri yang pernah menjadi koloni Belanda, yakni Indonesia. Terdapat banyak sekali yang mempengaruhi alam pikiran saya dalam kaitannya dengan Belanda. Pelajaran sejarah yang disuguhkan saat saya masih dalam pendidikan, menjadi laiknya film yang kerap mendudukkan Belanda sebagai pemeran 'antagonis'. Baik karena penyebutan Belanda sebagai penjajah,dlsb. Lantas?

Sejarah memang tidak bisa melepaskan dirinya dari banyak warna. Seperti halnya hidup yang merupakan sungai-sungai kecil, memanjang. Sampai ia menyatu ke sebuah samudera besar.
Ketika ia masih sebagai sungai. Masih ada lagi yang mengikuti di belakang Entah berupa parit, selokan, dan sejenisnya. Ketika ia masih terhenti, atau tersendat sebagai parit atau selokan tadi. Lumrah saja jika kondisi dalam posisi realitas seperti demikian kerap menghadirkan bermacam pandangan. Bisa kemudian berujung pada pandangan tidak suka atau bahkan jijik.

Namun begitu, hidup itu memang ibarat air. Ia mengalir. Ketika ia mengalir, pandangan yang sebelumnya hanya cenderung melihat air selokan kotor. Air yang sama justru menjadi bening ketika selanjutnya mata bersedia menoleh pada samudera.

Maaf, kalau saya membuka tulisan ini dengan penganalogian yang demikian panjang. Ini saya sengaja karena memang yang ingin dibicarakan adalah soal keberhasilan Belanda dalam mengubah berbagai pandangan tersebut. Pandangan yang diam-diam membawa pengaruh di pikiran generasi yang hidup dan belajar di negeri seperti halnya Indonesia. Negeri yang pernah diduduki Belanda selama tiga abad lebih.

Saya yakin. Belanda mengubah berbagai kebijakannya pastilah progressifitas mereka terlebih dahulu yang berhasil diubah. Progressifitas dalam berpikir. Saya sebut begini oleh sebab alasan teringat saja dengan pembukaan salah satu bab di buku Stephen R Covey: Seven Habits of Highly Effective People. Di buku tersebut, tercantum (kalau diskemakan) menjadi: Pikiran--> Perbuatan--> Kebiasaan--> Karakter--> Nasib.

Ini juga dibenarkan oleh wawancara sebuah media ternama Indonesia (Vivanews) dengan Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd Feico de Zwaan. Dalam wawancara di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, (10/4/2011). De Zwaan menyebut,"...bangsa Belanda memiliki pola pikir bergerak ke luar (international minded)".

Saya kira ini menjadi suatu bentuk dari transformasi yang cukup positif. Meski konsep tersebut masih mengesankan 'beraroma' lama, ekspansif. Namun, melihat dari realitas, secara tindakan (action), Belanda lebih memperlihatkan diri, memasang badan untuk berbagai hal yang bersifat inovatif. Hal-hal yang lebih sejalan dengan dunia modern yang tidak lagi terlalu memprioritaskan pada perluasan wilayah dan yang semisalnya. Melainkan, lebih pada "membawa pengaruh". Mereka cenderung lebih memosisikan diri sebagai model.

Model? Yap. Ini bukan satu hal yang mengada-ada. Mengaitkan dengan Indonesia, Antara, dalam salah satu reportasenya (25/2-2011) mencatat tentang pendidikan dan animo pelajar dari Indonesia untuk belajar ke Negeri Kincir Angin tersebut.

Disebutkan, tahun akademik 2009-2010 menunjukkan, jumlah mahasiswa Indonesia di Belanda berada pada posisi ke-11.

Koordinator Tim Promosi Nuffic Neso Indonesia, Ariono Hadipuro, seperti dilansir Antara, menjelaskan Pemerintah Belanda terus berupaya untuk membuat pendidikan tinggi Belanda mudah diakses oleh institusi pendidikan tinggi dan mahasiswa internasional dari luar Belanda.

DItambahkan lagi, keunggulan Belanda sebagai tujuan studi adalah karena kualitas yang diakui dunia dan ditawarkan dalam Bahasa Inggris. 

Also Published in: competiblog.com
Posting Komentar
Adbox