dunia lain untuk bicara

10 Januari 2011

Tradisi di Lembar-Lembar Daun Pisang

Jika mengintip cerita cinta anak-anak muda sebelum tahun 80-an. Akan banyak diketemukan kisah-kisah yang romantis bersama selembar daun pisang. Dan, kali ini saya sedang tertarik untuk menarik selembar daun itu untuk saya tempatkan di tulisan ini.

Di Aceh. Daun pisang menjadi bagian tradisi. Ketika perayaan-perayaan tertentu semisal Maulid sampai ke acara kawinan, akan dengan mudah terlihat daun pisang yang menjadi pembungkus nasi. Nasi yang sudah dibungkus daun pisang ini, oleh ureueng Aceh acap disebut dengan bu kulah. Biasanya, bu kulah ini dibentuk agak-agak mirip dengan piramid. Sehingga terlihat demikian menarik perhatian. Seperti halnya saya sendiri yang dari sejak kecil suka mengamati bu kulah ini.

Nasi yang dibungkus daun dan disebut dengan nama bu kulah tersebut, tidak hanya memiliki bentuk seperti piramid tadi. Ia juga memiliki aroma yang benar-benar khas. Ini bisa terjadi, karena sebelum daun yang mudah didapat di kebun-kebun penduduk ini digunakan untuk membungkus nasi, ia sudah terlebih dahulu dipanasi beberapa detik di atas perapian sampai daun itu berubah bentuk. Juga, asal ia sudah mengeluarkan aroma.

Percaya tidak percaya, memang nasi yang sudah dibungkus dengan daun pisang ini, lengkap dengan aroma khasnya itu cukup bisa mengundang perut berselera menampung nasi sebanyak-banyaknya.

Cuma saya tidak berani klaim bahwa tradisi membungkus nasi dengan daun pisang seperti itu berasal dari Aceh. Selain karena memang saya belum pernah melakukan penelitian khusus terkait ini. Juga karena memang kemudian saya menemukan mirip-mirip itu di banyak daerah lain. Baik juga di Sumatera atau juga pulau Jawa (malang nian, di Indonesia saya cuma familiar dengan 2 pulau ini saja karena kebetulan cuma itu yang pernah saya datangi).

Hanya, seperti saya sebut sebelumnya, di Aceh daun pisang sudah lama menjadi dari seremoni-seremoni adat. Tidak cuma berfungsi menjadi pembungkus nasi. Namun juga digunakan untuk merias daloeng atau wadah yang biasa dibuat dari kuningan berbentuk nampan bin talam. Sebagai riasan, di sini daun pisang sudah digunting dan dibentuk sedemikian rupa, seperti bunga-bunga dengan lebar disesuaikan dengan daloeng tersebut.

Membayangkan khasanah budaya ini, saya kerap tercenung. Betapa leluhur bisa menjadikan tanaman sebagai bagian dari budaya turun temurun. Seolah menyiratkan pesan; bersahabatlah dengan kehijauan dedaunan, di sana ada keteduhan. Atau bahkan, bahwa meski leluhur kerap dipandang jauh dari modernitas seperti halnya sekarang. Namun di sisi lain, mereka cukup bijak juga memanfaatkan apa saja yang ada di alam dan kembali mudah untuk diurai alam untuk ‘kehidupan kembali’. (ZA)
Posting Komentar
Adbox