dunia lain untuk bicara

10 Januari 2011

Mak, Perempuan yang Kusebut Setelah Tuhan

Aku membanggakanmu, Mak. Meski dari sejak kecil, belum pernah kulihat kau berkebaya anggun seperti perempuan kota. Dalam semua kesederhanaanmu, kau seorang perempuan desa yang paling sering kusebut setelah Tuhan.

Ibuku. Ia kerap kupanggil dengan Mak. Seorang perempuan desa yang lahir, tumbuh dan belajar di desa. Juga masih di desa pada saat sekarang beliau sedang berada di terminal jelang usia tua. Ah, bagiku, Mak tetap cantik meski lipstick saja jarang kulihat dari kecil melapisi bibirnya. Apa adanya saja, seperti sikap beliau yang juga sangat apa adanya.

Tidak ada titel di belakang nama beliau. Mungkin karena tiada embel-embel itu pula, ketika kecil aku bisa leluasa melepas dahaga dengan susunya. Entah berapa ribu tetes sudah melesak dalam tubuhku, maka kurasakan, lebih dari separuh tubuh dan jiwaku adalah dirinya. Maka jelas tidak akan pernah mungkin untukku melupakannya.

Bagiku, meski sampai sekarang ia masih di desa. Tetapi ia tidak sekadar perempuan desa. Ia seorang guru yang tidak kenal teori-teori pendidikan. Namun dalam bahasanya, ia kerap bercerita tentang ketangguhan. Keteguhan. dalam bahasanya pula, ia kerap berikan petuah bahwa seorang lelaki layak disebut lelaki bukan sekadar karena memiliki kemaluan lazimnya lelaki. Namun lelaki adalah makhluk Tuhan yang mengenal dirinya, lalu berbuat sebagai seorang lelaki.

Ah, bercerita tentang Mak. Meski sedang berjauhan seperti saat ini. Tak jarang sering membuat mataku berkaca-kaca. Sebab, dalam kekerasan kepalaku seperti yang sering juga kutunjukkan apa adanya padanya, aku sering salah tafsir tentang pelajarannya sampai menerjemahkan lelaki sampai semua yang harus dilakukan juga lelaki. Berbeda halnya saat ia memintaku menggiling cabe dengan batee pipeh (gilingan cabe terbuat dari batu), yang selalu saja dipercayakan padaku setiap ia ingin memasak. 

Seolah dari itu, ia sedang terangkan, menjadi lelaki tidak berarti harus menutup diri membantu seorang ibu yang perempuan. Mengerjakan sebuah pekerjaan yang dilakukan perempuan. Toh, agama tidak pernah haramkan lelaki melakukan sebuah pekerjaan rumah yang kerap dilakukan perempuan. Nabi pun menjahit pakaian sendiri. Ibuku memang sangat alami caranya mendidikku.

Mak, ingat tidak, ketika adik-adik terkadang tertawa melihat kakaknya yang bebal ini bersama ibu menggiling cabe sampai memasak kue. Ah, aku tersenyum melihat kepercayaan ibu seperti itu padaku. Meski, ketika itu, awal-awal kau memintaku melakukan itu, sempat terasa olehku perasaan risih. Dengan diam-diam menggerutu dalam hati, ini bukan pekerjaan lelaki. Lagi, senyummu seperti sedang menyapu gerutuan yang datang dalam diamku. Memuji pekerjaanku,”Kau lebih halus kalau menggiling cabe.” Mengingat itu, hampir ku tak percaya, kalimatmu itu mak, membuatku terbius dan malah setiap kau ingin masak, selalu aku terpancing untuk meminta padamu, agar aku saja yang menggiling cabe itu.

Aku tidak tahu, menjelang usia senja seperti ini, kedekatanku bersamamu ketika itu masih membekas di ingatanmu, Mak. Tapi begitu, aku tahu persis, dari semua anakmu, cuma namaku yang paling sering kau sebut. Tahu tidak Mak, beberapa hari lalu, ketika aku sedang menelponmu dan kau katakan sudah mencetak poto terbaruku dengan ukuran terbesar dan kau gantung di kamarmu, ada titik bening jatuh di pipiku, Mak. Walau dulu, di depanmu kerap kutunjukkan bahwa lelaki pantang menangis, bahkan dalam menghadapi keadaan terburuk dalam hidup. Namun, saat kau cerita tentang itu, aku menangis juga sambil tersenyum.

Meskipun badanku sedang tidak berdekatan denganmu, Mak. Ini, ini anakmu, lebih separuh nafasku adalah nafasmu. Lebih separuh darahku adalah darahmu. Dan, lebih separuh nyawaku adalah nyawamu.

Hari ini. Sebuah saat yang disebut sebagai harimu. Aku cuma bisa berucap; Mak, I Love You!
***
jika hari ini ada puisi yang terindah yang bisa kutulis
bagiku itu tidak cukup untuk memujamu
tidak juga samudera bisa menampung aliran cintamu
yang kau berikan padaku, anakmu
karena genangan cintamu bagiku jauh lebih dalam daripada sepuluh samudera
karena cinta itu datang darimu
ibu, yang selalu kusebut setelah nama Tuhan
(jakarta, 22 desember 2010)
Posting Komentar
Adbox