dunia lain untuk bicara

25 Agustus 2010

Wisnu Menampar Pak Beye

Dalam pikiran buruk saya, terbayang seperti apa merahnya wajah Pak Beye dengan tamparan Wisnu yang tidak hanya satu tangan, tetapi dengan kedua belah tangannya!

Dan memang, ini bukan mengada-ada atau sekadar saya melebih-lebihkan tentang buah tangan dari lelaki yang bernama lengkap Anton Wisnu Nugroho itu. Tetapi, 3 kali berturut-turut saya mengulang-ulang membaca sebuah buku berjudul: Pak Beye dan Istananya, yang tak lain sebagai karya yang sering saya sebut-sebut di berbagai diskusi dengan teman-teman sebagai buku yang memiliki muatan sejarah yang tidak sederhana. Saya sebut ia menampar Pak Beye dengan kedua tangannya karena memang saya meyakini, ketika tuts-tuts komputer ia sentuh, pasti ia mempergunakan kedua tangannya sampai kemudian mengalir tulisan demi tulisan dan lalu menjadi sebuah buku. Dengan buku itu pula Wisnu dengan santun menampar Pak Beye–sebuah buku yang juga diposkan langsung oleh penulisnya ke saya..

Sejauh ini, dari sejak peluncuran bukunya beberapa waktu lalu yang juga saya hadiri di Grand Indonesia, ada semacam rasa cemas di pikiran saya. Cemas karena mengingat kemungkinan tertularnya virus anti kritik sesantun apa pun, seperti halnya di beberapa jaman sebelumnya ketika Pak Beye mungkin masih merangkak dari berbagai jenjang perwiranya. Tegasnya, Wisnu diringkus dan dijebloskan ke penjara!

Sebuah kengerian yang agak berlebihan bukan? Tetapi memang demikian. Setiap saya menyalakan televisi atau membuka halaman koran, pasti saya menduga-duga, ada kabar apa terkait Wisnu?

Dan syukur, meski di buku ini sarat dengan kritik-meski halus-tidak sampai membuat Wisnu harus mengalami kemungkinan buruk seperti halnya banyak jurnalis yang sudah lewat dan mangkat akibat ulah pejabat yang kepalanya penat.

Perhatikan saja, ramalan Efendi Ghazali si Dewa Komunikasi pada peluncuran buku Wisnu ini pertama sekali laris bak kacang goreng-simbol yang tidak berlebihan saya kira–sampai saya sempat curiga kalau buku ini diborong pihak tertentu, dan saya tuangkan dalam tulisan sebelumnya. Tulisan berisi murni dugaan yang kemudian terbantahkan bahwa memang sebenarnya semuanya terbeli, bukan diborong pihak tertentu. Kemudian, ketika dengan seketika nama Wisnu disebut-sebut di mana-mana, bahkan dalam salah satu situs berita online, nama jebolan Filsafat Driyarkara itu menjadi berita yang paling dicari. Renteten fakta demikian menunjukkan, tamparan Wisnu tidak berbuah petaka.

Maka, jangan takut menampar, dengan cara masing-masing. (ZA)
Bandung, 25 Agustus 2010
Also published in:
Http://ficklaotze.wordpress.com
Http://kompasiana.com/soefi
Posting Komentar
Adbox