dunia lain untuk bicara

11 Februari 2010

Perjalanan Anjing Jantan


Mengendus, membaui, mencium. Tetapi karena hanya seekor anjing, kecenderungan kalimat yang dipandang lebih layak di tuliskan di helai-helai bulunya hanyalah mengendus.

Saya melihat kawanan anjing jantan itu di mana-mana. Sebagian beruntung memilimi bulu-bulu yang bersih dan enak untuk dpandang, meskipun ia tetaplah seekor anjing.

Sebagian mencoba untuk tetap menjaga bulunya tetap bersih, tetapi anjing-anjing jantan ini tidak berani untuk memaksa masuk ke rumah-rumah manusia yang dilewatinya karena kekhawatiran disiram dengan air panas, atau bahkan dilempar dengan batu oleh anak-anak manusia. Anak-anak yang dalam epos kancil disebut sebagai bukan manusia, tetapi tegas sekali disebut olehnya sebagai bakal manusia.

Menyedihkan. Mereka yang menjadi anjing yang memang memiliki tubuh penuh kurap, berkudis, bau. Meski tidak mengkhawatirkan, namun tetap menjadi sasaran lemparan batu bakal manusia yang sering disebut dengan anak-anak. Air panas juga bisa dengan mudah tersiram ke tubuh mereka, kendati dalam hatinya tidak terbetik niat untuk sekedar mencuri sepotong dagingpun dari rumah-rumah manusia itu.

***

Namun begitu, saya tidak mengdebat kebijaksanaan Tuhan saat melihat potret ironi dari perjalanan anjing jantan. Mereka yang terkadang merangkak lelah untuk bisa mencari tulang-belulang untuk anaknya, istrinya atau mungkin juga orangtuanya. Meskipun memang suguhan pemandangan yang menjadi bagian dari nasib itu–terhadap anjing jantan–seringkali sulit untuk terpahami. Seperti mencoba memahami puisi yang ditulis lelaki gila dalam usia yang sudah begitu senja.

“Inilah perjalanan sebagai sejarah kejantanan, dan aku sebagai binatang yang sangat menyadari kebinatanganku. Mencoba untuk berjalan sesuai dengan risalahku sebagai seekor binatang.” Ujar seekor anjing yang terlihat lelah oleh nasib yang dipikulnya. Sederet kekecewaan disebutkannya. dari pengalaman pernah merasakan siraman air panas, pukulan kayu, lemparan batu sampai harus rela makan debu meski perjalanannya itu sudah membuat lidahnya kian menjulur letih.

Perjalanan itu tidak mudah untuk di mengerti, apalagi oleh seekor anjing.

” Banggalah kalian yang ditakdirkan Tuhan terlahir di dunia sebagai manusia yang menyadari kemanusiaan kalian, menjalankan risalah kalian sebagai seorang manusia.” Ujar anjing jantan lainnya terbatuk-batuk di sisi tong sampah yang mengundang mimpinya bakal menemukan kerat daging yang bisa saja dibuang manusia karena alpanya.

“Jangan katakan pada mereka, kerap aku menertawakan mereka yang sering berbangga hanya dengan disebut sebagai manusia, namun dalam gerak kaki dan desah napasnya memiliki irama seperti anjing yang tidak pernah mengenal definisi harga diri.”

***

Entah kenapa, walaupun aku menyadari dengan sangat, jikalau aku menyadari diriku sebagai manusia. Tetapi aku tidak terlalu tertarik untuk membanggakan diri. Justru, seperti menyimpan birahi untuk lebih memuji anjing-anjing yang sempat kujumpai di beberapa lorong kota yang pernah kukunjungi. Karena anjing-anjing berkurap, penuh kudis itu terlihat lebih istimewa daripada melihat makhluk sebangsaku karena anjing-anjing itu sepertinya jauh lebih mengenal dirinya daripada diriku sendiri yang hingga hari ini masih kelimpungan sekedar untuk bisa menerjemahkan dan menjawab,“siapa aku?”

Pun, melihat beberapa belatung yang kentara di tubuh anjing-anjing jantan itu, saya justru merasa itu buah perjuangannya sebagai seekor anjing dalam menjalankan perannya sebagai seekor anjing jantan, itu terlihat lebih menginspirasi daripada melihat sekian banyak manusia yang berbaju indah dan berdasi namun sekali lagi masih kebingungan mengenali harga diri.
Posting Komentar
Adbox