dunia lain untuk bicara

06 Desember 2009

Jika Saya adalah Seekor Anjing


Jika saya adalah seekor anjing. Saya tidak akan menangis menghiba hanya untuk sekerat daging. Menjadi anjing yang masih punya harga diri, jauh lebih berharga daripada saya menjadi manusia tanpa harga diri.
***
Pada apakah ukuran harga diri itu berada? Kukira tidak pada timbangan-timbangan para pengusaha yang sudah tidak bisa matematika untuk mengukur lebar perutnya. Tidak pada pejabat negara yang lebih menderita daripada pengemis yang berminggu meronta dalam lapar.
Aku hanya melihat itu pada setiap inci daging tubuhku, pada tubuh saudara-saudaraku yang masih berani mengatakan “tidak” pada penyembahan. Iya, pada penyembahan atas manusia, karena alasan apapun. Penyembahan pada kebodohan dan pada kebimbangan.
***
Disebelah kiri tubuhku, malam ini. Seorang lelaki tua berdiri gontai, dengan napas yang terasa berat untuk dihirupnya sendiri.”Akupun penjelmaan anjing, dan aku adalah penjelmaan dirimu. Silahkan saja menjadi anjing jika dengan begitu harga diri masih menyatu bersamamu. Daripada kau mencoba mengukir topeng-topeng yang membuat mual, lantas mengenakannya hanya untuk disebut manusia mulia ditengah manusia munafik.”
Aku terhenyak dan menatapnya seperti bocah kecil yang ngeri melihat hantu. Hantu yang pada awalnya hanya bermain di ruang-ruang imajinasinya. Kutatap ia tajam, dengan tetap mengayunkan jemari di atas keyboard komputer didepanku.
“Apakah aku harus deklarasikan diri sebagai anjing saja? Apakah itu sebagai pilihan paling bijak?” Tanyaku sambil mencoba menginjak dengan sandal jepit, semua ketakutan yang menyergap.
“Iya, engkau menyebut dirimu sebagai seekor anjing, sedangkan kau terus mengarahkan pikiran dan tubuhmu untuk lakukan kebaikan. Karena Tuhan itu tidak hanya melihat kebaikan yang bisa dilakukan oleh manusia. Dalam pandangan Tuhan, kebaikan terlihat sebagai kebaikan, entah itu juga dilakukan oleh seekor anjing. Sepertiku, sepertimu.” Ujarnya dengan suara berat. Terasa seakan Malaikat Maut sedang berada begitu dekat ke tubuhnya. Melebihi kedekatan baju putih beraroma tanah basah yang menebar dan melekat pada tubuh rentanya.
“Malah kau akan terlihat seperti anjing sebenarnya saat engkau berteriak sekeras-kerasnya. Menyebut diri sebagai manusia, sedangkan semua lelakumu terus saja mengendus, menjilat aroma-aroma bangkai. Dan saat ruang-ruang imajinasimu hanya terisi dengan bayangan-bayangan tulang-tulang yang telah penuh ulat. Anjing tanpa harga diri itu adalah manusia yang masih saja bermimpi pada belulang berulat. Jadilah anjing, jadilah anjing yang bisa bicarakan kesetiaan ada kebenaran yang selalu dibisikkan nurani. Ulangi saja kalimat ini, para pencari cinta tidak akan jenuh mendengarnya. Bahwa, nurani tidak bersuara keras.” Ia seperti guru yang sedang bernostalgia saja. Ekspresinya menyebut begitu.
“Nurani selalu berbicara pelan dan lembut. Tidak akan bisa didengar oleh mereka yang sibuk dengan pengejaran menggunakan ayunan kaki, tanpa pelibatan otak. Suara nurani hanya akan didengar oleh mereka yang bersedia untuk berjalan bersama ketenangan, memasang telinga dengan sepenuh cinta. Ia menjadi anjing yang setia menunggu setiap nurani mengeluarkan titah merdunya yang lebih indah dari nyanyian bidadari.” Ia berpuisi.
“Kegagalan adalah saat kau gagal mendengar suara itu. Kebenaran tidak bermain di goa-goa yang bisa gemakan setiap suaranya, tetapi ia nyaris tanpa gema. Ia tidak terlalu unjuk diri, tetapi selalu berhasil teraba oleh mereka. Mereka yang menjadi anjing, anjing yang tidak sibuk untuk teriakkan diri sebagai manusia. Namun terus melakukan pekerjaan-pekerjaan mulia seorang manusia. Dari itu, ia lantas disebut sebagai manusia, kendati ia sendiri hanya melihat diri sendiri hanyalah sebagai seeekor anjing yang paling hina ditengah kerumunan manusia pemakan bangkai.” Aku hanya terhenyak, dan merenung sambil mendengar hujan yang sedang jatuh pelan di badan malam
Posting Komentar
Adbox