To Learn and Inspiring

Pengunjung

Geuchik Era Konflik dan Mereka Kini?

Alhamdulillah, MoU yang menjadi tonggak lahirnya era baru perdamaian di Aceh telah melewati masa 3 tahun. Sisa-sisa kengerian oleh bayangan saat-saat Aceh terbaluti konflik masih lumayan membekas di memori kita yang melihat dan merasakan sendiri bagaimana keganasan perang di ketika itu.

Hari ini, banyak hal yang seharusnya juga dilirik selain persoalan ’sisa konflik’, baik berupa korban dan sebagainya. Saya melihat dari sudut yang lain, keberadaan pemimpin yang jarang mendapat perhatian, geuchik (sebutan untuk kepala desa di Aceh). Saya yakin, akan ada yang bertanya, “apanya yang menarik dengan geuchik dan kaitan dengan kondisi konflik?” Tidak terlalu banyak barangkali yang bisa di ulas, disatu sisi.
Tetapi sebenarnya ada nilai yang terasosiasi ke sosok-sosok pemimpin kaliber gampong itu, pengorbanan. Iya, konflik menciptakan mereka sebagai figur-figur yang harus banyak berkorban bahkan dikorbankan. Alasannya?
1. Menjadi Geuchik pada saat-saat konflik itu terjadi di Aceh bukanlah kerja mudah. Militer, jika didalam sebuah desa terjadi penyerangan terhadap pos-pos militer maka Geuchik menjadi sasaran interogasi mereka. Disini Geuchik musti punya ‘amunisi’ jawaban yang ‘menggembirakan’ militer atau harus rela mendapatkan ‘kado’ lars atau popor senapan mesin yang rajin ditenteng militer—maaf tidak ada unsur mendiskreditkan unsur manapun—.
2. Oleh kombatan GAM, Geuchik menjadi representasi mereka—terkadang— untuk pengutipan pajak nanggroe, selain mereka sendiri juga diharuskan membayar semacam upeti dengan jumlah bervariasi, namun tegasnya 2 tahun gaji geuchik belum tentu memadai untuk membayar upeti itu, tetapi demi untuk memelihara selembar nyawa, terkadang tanah warisan terpaksa digadaikan atau bahkan dijual
3. Banyak Geuchik yang memilih mengungsi dari desanya agar tidak terkena dampak buruk dari pertikaian ‘yang membingungkan’ itu—saya sebut membingungkan karena memang banyak masyarakat yang pernah saya temui kebingungan untuk berdiri dipihak mana, karena umumnya masyarakat merasa mereka yang bertikai adalah bagian dari masyarakat juga—-.
Nah, disini ada beberapa Geuchik yang ternyata istiqamah untuk tetap survive menjalankan fungsinya sebagai kepala desa dan melupakan konsekuensi-konsekuensi buruk yang mungkin terjadi pada diri dan keluarganya, Dari situ sebuah ironi saya tangkap. Terawali oleh sebuah pertanyaan yang tidak sengaja tercetus di mulut saya, tadi siang saat sedang assesment di desa-desa pedalaman Aceh Barat—Kecamatan Pantee Ceureumen—, di Desa Pulo Teungoeh
“Maaf Pak, setahu saya Bapak sudah menjadi Geuchik sejak masih konflik, dan kami juga sudah mendapat banyak gambaran bagaimana kesulitan yang harus diterima dalam posisi Geuchik saat itu, nah sejauh ini apakah ada penghargaan khusus dari pemerintah untuk Geuchik seperti Bapak yang tetap bertahan ketika itu?” Diluar dugaan saya, airmata menetes dari pipinya, sebelumnya tadi terlihat ceria dengan kedatangan Tim saya,
“Alhamdulillah, pertanyaan itu mengharukan saya sekaligus membuat saya sedih, bukan haus dengan penghargaan tetapi memang seperti itulah Pak, kami tidak mendapatkan penghargaan apapun dari pemerintah sampai sekarang. Andai saja mereka di pemerintahan berpikir seperti bapak pikirkan, tentu hari ini kami sudah merasakan hidup yang jauh lebih enak mungkin. Tetapi, memang pengorbanan kami dulu tidak akan pernah mendapat nilai, dan bukti sejauh ini menunjukkan itu, pemerintah tidak berikan apresiasi apapun untuk kami Geuchik yang masih bertahan…..”
Saya terhenyak dengan pengakuan itu, yang sempat secara spontan terbetik di kepala saya dari pengakuan geuchik ini adalah, “terlalu sederhanakah pengorbanan geuchik ketika konflik dulu?”, atau karena terlalu banyak hal yang dipikirkan oleh elit pemerintah sehingga geuchik yang bermain di level lebih kecil terkesampingkan sampai begitu rupa? Entahlah






taken from:
http://ficklaotze.wordpress.com
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?