To Learn and Inspiring

Pengunjung

  • Hingga Putri Komedian Indro Bicara Perawatan Kendaraan

    "Saya selama ini memang memakai saja, dan nyaris tak ada pengetahuan dasar apa-apa bahkan saat akan membawa kendaraan saya ke bengkel," aku seorang ibu-ibu yang mewakili kalangan blogger.

  • Tak Ada Kembang Api di Hari Buku Dunia

    Bagi para pecintanya, Hari Buku memang tak perlu dirayakan dengan ingar bingar. Seperti halnya mereka kerap menghabiskan waktu membaca di tempat-tempat sepi, saat merayakannya pun sering tak lepas dari nuansa sepi tadi.

  • Kenapa Nama Kartini Abadi

    Kartini meyakini sebuah bangsa bisa berubah tak selalu perlu berdarah-darah, tapi juga bisa dengan memastikan dulu pola pikir yang harus lebih dulu diubah

  • Suzuki Ignis Menantang Kalangan Urban

    Kendaraan keluaran Suzuki ini meski diciptakan dengan bentuk berkesan mewah, namun tetap dapat diandalkan di berbagai medan

  • Ironi Aceh tentang Petani dan Kupoek

    Hanya karena pertarungan di tingkat elite di daerah tersebut, banjir uang yang didapatkan Aceh tak terlalu berdampak besar bagi kesejahteraan masyarakat Aceh sendiri

Parenting untuk Blogger: Lebih Dekat dengan Masalah Pencernaan Anak

Diskusi seputar pencernaan anak diadakan Enfaclub dan MeadJohnson di Tanamera Cafe Jakarta

Menjadi seorang ayah tak berarti berhenti belajar. Itulah yang terbetik di benakku ketika seorang sahabat, Elisa Koraag, mengabarkan ada acara seputar masalah anak, Sabtu (17/6).

Ya, terlebih anakku, Shadia Humaira, yang baru beranjak usia dua tahun dan baru disapih. Sejak menjelang disapih sudah diperkenalkan dengan susu sapi agar membantu pertumbuhannya.

Memang sejauh ini nyaris tak ada masalah berarti sepanjang anakku beralih dari ASI ke susu sapi. Tapi ini tentu bukan alasan untuk menutup diri dari mencari berbagai informasi, terutama yang berhubungan langsung dengan pertumbuhan anak.

Apalagi, meski saat ini anakku baik-baik saja, tapi saat ia masih usia setahunan sempat juga mengalami kondisi mengarah ke alergi yang anehnya justru terjadi ketika ia masih mengonsumsi ASI.

Maka itu berjaga-jaga agar tak terulang lagi, belajar dari pengalaman, membetot perhatian saya setiap kali ada apa saja seputar anak; entah dari situs seputar dunia anak hingga acara-acara bertajuk masalah anak.

Terlebih acara itu sendiri memang mengangkat tema tak jauh dari cara mengatasi bayi alergi susu sapi.
Sebab, sebagai ayah, menambah wawasan baru lewat diskusi begini terasa sebagai sebuah panggilan yang harus dipenuhi. Apalagi, bagi saya, memberi untuk anak tak selalu cukup hanya sekadar memenuhi kebutuhannya secara materi, tapi juga perlu mendampingi pertumbuhannya dengan ilmu memadai.

Jadi, di hari acara itu berlangsung, bersama anak dan istri, kami merambah jalanan Jakarta. Mengendarai motor di tengah hari, berangkat lebih cepat hanya agar tidak terlambat. Soal haus dan lapar karena puasa tak menjadi keluhan, lantaran jarang-jarang juga menghadiri acara edukatif yang memang punya kaitan dengan parenting itu.

Ada semangat menggebu-gebu karena terngiang apa yang terbetik saat sahabatku yang acap disapa Buncha mengabarkan acara itu, "Menjadi seorang ayah tak berarti berhenti belajar". 

Sugesti itu juga yang kuutarakan kepada istri. Jadilah kami berangkat saat udara Jakarta sedang hangat-hangatnya.

Si kecil, Shadia, turut kubawa karena memang acara itu memperbolehkan untuk membawa anak. Kebetulan sedang libur, sekalian jalan-jalan, dan si kecil yang baru berusia dua tahun paling gemar diajak jalan-jalan, kami merambah jalanan.

Anakku sendiri memang acap kubiasakan untuk bepergian untuk mengajarkannya berpikiran terbuka, dan ia terbiasa melihat berbagai potret realitas di sekelilingnya.

Selain juga, sejauh ini aku meyakini bahwa membangun kedekatan anak dan membantu pertumbuhannya, salah satunya adalah sering melibatkannya pada berbagai aktivitas; agar kemampuannya bersosialisasi terasah dari dini, dan ia dapat merasakan keakraban lebih kuat dengan ayahnya.

Tiba di lokasi ketika di sana hanya baru ada panitia dari Enfa Club dan MeadJohnson, yang mengadakan acara tersebut. Sempat kaget, kami tiba terlalu cepat, karena belum ada peserta lain yang datang.
Saat diskusi pencernaan anak belum mulai

Wislah, saat panitia sedang sibuk menata beberapa hal yang harus ditata, dan pekerja Tanamera Cafe sedang sibuk mengatur berbagai menu untuk acara tersebut, kumanfaatkan waktu untuk bermain dengan Shadia, si kecilku.

Kebetulan sekali, acara itu diadakan di kafe yang terbilang sejuk. Berada di lantai dua, dan diapit banyak pohon, si kecil merasa di lingkungan sendiri.
Menuju tempat diskusi parenting dengan Enfaclub

Bagaimana tidak, nyaris saban hari ia biasa diajak ke taman yang ada di kawasan Permata Hijau, tak jauh dari rumah, sehingga ada kecenderungannya cepat akrab dengan suasana yang dirasa olehnya punya atmosfer lingkungan yang mirip.

Soal kami datang terlalu cepat tak lagi terasa sebagai hal janggal. Sudahlah, ini lebih baik daripada terlambat, lantaran di undangan pun tertulis acara diadakan pukul 15.00, walaupun kemudian sempat harus menunggu sebagian peserta lain yang terjebak macet atau karena berasal dari kawasan yang relatif jauh dari lokasi.
Sebelum acara soal pencernaan anak dimulai, anakku memulai lebih dulu dengan selfie


Di sela-sela itu juga, peluang untuk mengajak si kecil bermain-main pun terasa lebih leluasa. Apalagi dari jendela kaca di ruangan Tanamera Cafe, ia leluasa melihat pepohonan yang ada hingga mobil-mobil yang melintas.

Satu persatu peserta lain datang. Shadia pun terlihat menyatu dengan situasi di lokasi acara. Saat acara berlangsung pun Shadia menunjukkan sinyal, ia betah di tempat ini.

Meski di sekelilingnya dipenuhi para ibu-ibu, ia terlihat tidak canggung, dan tetap masih dapat bermain; ngoceh, bercerita ala dia, hingga jalan-jalan dari kursi ke kursi.
***
Tak sia-sia. Ketika masuk ke sesi acara, mereka yang menjadi pakar di bidangnya menyampaikan banyak hal seputar dunia anak, bagaimana mencermati perkembangan mereka, hingga anjuran jeli memerhatikan berbagai kondisi anak.

Persoalan pencernaan anak menjadi topik utama di acara tersebut. Dr Ariani Dewi Widodo, Sp.A, yang memang berlatar belakang spesialis anak, bersama M. Nuh Nasution yang merupakan ahli dari Enfa A Plus (Enfa A+), secara bergantian membahas persoalan anak dan pencernaan.
Saat acara berlangsung dan dokter Ariani Dewi bicara soal pencernaan dan alergi anak

Dokter Ariani juga menjelaskan bahwa anak, terutama bawah satu tahun, pencernaan mereka cenderung hanya memiliki daya serap 25 persen. Jadi tak heran jika terkadang terjadi gumoh, kembung, hingga rewel tanpa sebab jelas.

Terlebih, kata dokter Ariani lagi, gejala pencernaan memang berkait langsung dengan hal-hal itu; kembung, sering buang gas, sakit perut, mual/muntah, tidak lancar BAB, hingga muncul kerewelan tersebut.

Salah satu blogger, Uli Hape, juga sempat memanfaatkan momen tanya jawab dengan dr. Ariani seputar makanan anak. Uli bercerita jika anaknya punya kecenderungan makan coklat namun di sisi lain anaknya pun rentan dengan alergi.

Dokter Ariani pun menekankan bahwa dalam kondisi seperti itulah penting bagi orang tua mencari pemicunya, dan menghindari penyebabnya.

"Sebab hanya ada tiga cara untuk menangkal hal-hal seperti itu, dan itu adalah pencegahan, pencegahan, dan pencegahan," kata dokter spesialis anak tersebut.

Sedangkan M. Nuh membahas seputar Tes Alergi Susu Sapi, di mana menurutnya masing anak memiliki kecenderungan masing-masing.

"Jadi, bagaimana orang tua memberikan nutrisi kepada anaknya menentukan juga pada kondisi pencernaannya," kata M. Nuh, menerangkan salah satu langkah yang mesti jeli diperhatikan orang tua yang memiliki anak-anak terutama bawah tiga tahun.

Sebab, kata M. Nuh lagi, persoalan pencernaan bukanlah masalah ringan. "Sebab dari kondisi pencernaan bahkan bisa berpengaruh hingga ke mentalnya," M. Nuh menegaskan.

Maka itu M. Nuh menyarankan agar bagi orang tua mesti memilih nutrisi yang meyakinkan, selain juga aman.

Selama ini, kata M. Nuh ada kecenderungan merebaknya anggapan keliru. Ketika anak-anak mengalami kondisi tertentu terkait pencernaan acap dihubungkan bahwa itu alergi susu sapi.

"Padahal tidak begitu juga, melainkan karena anak-anak punya keterbatasan dalam kemampuan pencernaan" M. Nuh meluruskan.

"Di situ juga kenapa dianjurkan agar nutrisi yang diberikan itu sebaiknya adalah yang berasal dari protein yang gampang dicerna oleh anak. Meskipun dari susu sapi namun--dengan kandungan bahannya yang sesuai kondisi anak--mencegah anak kita dari berbagai kondisi mengkhawatirkan."

Selain memaparkan seputar pencernaan, M. Nuh juga mengajak mengecek kondisi anak lewat program yang ada di situs Enfaclub, www.enfaclub.com/tesalergi-sususapi. Lewat situs tersebut dapat diketahui bagaimana kondisi pencernaan anak, dari bentuk feses hingga berbagai kondisi lain yang berkaitan.
Tes Alergi yang ada di situs enfaclub.com

Seberapa sering anak menangis menjadi pertanyaan awal untuk mendeteksi kondisi anak

Berapa sering seorang anak mengalami gumoh atau muntah juga menentukan skor yang menunjukkan kondisi anak


Pertanyaan ini membutuhkan perhatian dari orang tua terkait bagaimana feses atau kotoran si kecil, yang juga akan menunjukkan kondisi pencernaannya

Kondisi pada kulit anak juga menjadi salah satu pertanyaan yang harus dijawab untuk mengetahui kemungkinan ada masalah dengan pencernaan anak ataukah tidak

Biasanya kondisi kulit juga memperlihatkan efek dari kondisi pencernaan anak, dan ini akan menjadi salah satu pertanyaan yang harus dijawab

Situasi pernapasan anak pun menjadi salah satu indikator keadaan anak terkait pencernaannya dan harus dijawab apa adanya

Terakhir, Anda akan mendapatkan formulir data diri dan anak sebelum mendapatkan hasil dari skor berdasarkan jawaban di situs enfaclub.com/tesalergi-sususapi

M. Nuh juga menjelaskan, perihal berhubungan dengan berbagai kondisi yang dapat terjadi itu tak perlu disikapi dengan kepanikan. "Sebab ada banyak cara dapat dilakukan, dari urut hingga 'knee pushing exercise, atau menggerakkan kaki anak seperti orang mengayuh sepeda," ujarnya.

Di sisi lain ia juga mengingatkan bahwa protein yang menjadi makanan anak memiliki molekul terbilang besar. Maka kenapa pada susu yang diciptakan MeadJohnson, misalnya, diupayakan diciptakan yang memiliki molekul protein  berbeda.

"Di MeadJohnson telah dipecah lebih dulu menjadi kecil-kecil," ujar M. Nuh lebih jauh.

Meski acara itu bertajuk seputar anak, tapi sebagai ayah yang juga menggeluti dunia blogging juga merasa diuntungkan dengan paparan lainnya. Pasalnya, pihak Enfaclub juga menghadirkan salah satu pakar di dunia e-commerce, yakni Parjono Sudiono dari Zenit Optimedia.

Lewat Parjono, para peserta diskusi di sela-sela buka bersama tersebut menjadi lebih berwarna.

Parjono mengimbau, bagi para orang tua dan blogger yang getol berbicara seputar anak, idealnya memang memberikan fokus pada kampanye hal-hal seputar anak dengan memanfaatkan blog pribadi.

Cuma, menurut Parjono, apa pun topiknya menjadi perlu juga bagi blogger, apa pun statusnya untuk memahami SEO alias Search Engine Optimization. Sebab menurutnya, jika mengangkat suatu isu atau tema tapi tidak terindeks di Google, akan sangat disayangkan. Sangat sedikit peluang pengunjung yang bisa datang.

"Padahal, sebanyak 90 persen pengguna internet itu mencari sesuatu dengan cara searching," Parjono mengingatkan.

Maka itu, katanya lagi, mencari tempat agar mendapatkan posisi di halaman depan pencarian menjadi hal yang sangat perlu.

Sebut saja misalnya bagi orang tua yang sedang mengangkat isu #TesAlergiSusuSapi yang memang berhubungan dengan anak dan apa yang dikonsumsinya, maka perlu memerhatikan "kata kunci" hingga jeli memahami apa yang dibutuhkan oleh pembaca.

Parjono mengimbau agar mengakrabi betul seperti apa kecenderungan Google dalam memilih mana situs yang layak diprioritaskan di halaman depan dengan yang tidak sama sekali.

Jadi, kata Parjono juga, perhatian pada URL, misalnya, agar mudah terindeks, hingga bantuan navigasi menjadi hal penting agar terindeks dengan baik di mesin pencari seperti Google.

Selain, itu Parjono juga memberikan "clue" agar bagi para ayah dan ibu yang beraktivitas sebagai blogger, entah sebagai hobi atau apa pun, jeli membaca kenapa seorang pengunjung menyukai satu situs dan rela berlama-lama di situs tersebut.

"Tak masalah jika situs kita terkesan gado-gado, toh media seperti Detik pun mengisi dari kriminal, politik, sampai dengan urusan perempuan," Parjono mengingatkan. Namun, dia menambahkan juga, perlu bagi semua blogger untuk menunjukkan apa yang menjadi identitas suatu situs atau blog.

Yap, banyak catatan dari diskusi yang berlangsung di Tanamera Cafe itu. Tempat yang biasa menjadi sasaran kalangan muda, kali ini membawa warna tersendiri dengan diskusi banyak hal. Enfaclub dengan MeadJohnson tak hanya menyulap kafe langganan kalangan muda urban, namun membantu para ayah dan bunda menambah wawasan baru seputar kondisi anak.*

Pemandangan di sela-sela acara:
Shadia merasa merdeka karena datang saat belum ramai

Shadia menikmati momen wefie dengan emaknya

Sisi jendela lokasi acara, tempat favorit Shadia
Di sela acara Shadia masih sempat petak umpet

Share:

Rukem, Rukun Kematian di Pedesaan Lumajang



Rukem di pedesaan Kabupaten Lumajang
(Foto : Zuhriyah)

Akhir Bulan April 2017 yang lalu penulis mendapat tugas ke Kabupaten Lumajang, tepatnya di Desa Pasrujambe, Kecamatan

Pasrujambe. Dalam perjalanan ke dan dari wilayah tersebut selalu saja penulis melihat bangunan yang posisi di tepi jalan. Bangunan itu permanen, berukuran  kira-kira 2 m x 3 m, biasanya bentuknya segi empat dan bercat putih. Penasaran penulis menanyakan ke pemiliki home stay (Pak Giyo) tentang bangunan tersebut.

Dari penuturan orang tua tersebut bangunan yang dimaksud itu nama RUKEM yang merupakan singkatan dari Rukun Kematian. Selintas dalam benak penulisan tentang rukem adalah buah bulat kecil yang berwarna ungu-ungu yang pada waktu kecil penulis selalu diemut untuk mencari rasa asam dan manisnya. Selanjutnya bapak itu cerita bahwa setiap RT di desa pasti memiliki satu Rukem. Jadi kalau misalnya dalam satu desa ada 50 RT berarti ada 50 rukem di desa tersebut.

Kemudian dengan ditemani kopi dan goreng singkong sang Bapak tadi bercerita bahwa ada dua pemaknaan Rukem itu, rukem sebagai sebuah bangunan yang fungsinya sebagai tempat untuk mengumpulkan barang-barang seperti piring, gelas, sendok, garpu, kuali dan macam-macam alat lainya yang diperlukan pada saat hajatan nikahan, khitanan, kematian atau berkaitan dengan acara keagamaan.

Pemaknaan lain dari Rukem adalah kumpulan dari warga satu wilayah atau (dalam konteks ini saya menuliskan RT). Di mana setiap warga terikat dengan rukem-nya masing-masing untuk terlibat dalam setiap kegiatan yang ada di ke-RT-an tersebut. Menurut Bapak Giyo, setiap Rukem ada kepengurusannya sendiri yang bertanggung jawab untuk mengatur dan mengelola rukem tersebut.

Pertanyaan lanjutan penulis adalah dari mana warga memperoleh dana untuk mendapatkan barang-barang tersebut? Bapak Giyo mengatakan bahwa di RT-nya biasanya ada kumpulan ibu-ibu dan bapak-bapak bentuknya semacam arisan. Dalam seminggu mereka berkumpul satu kali dengan hari yang disepakati bersama. Setiap bapak dan ibu dari arisan tersebut dikumpulkan uang Rp 1.000,- jadi perkeluarga Rp 2.000,- yang disatukan dan diserahkan ke bendahara rukem. Kumpulan uang dari bapak-bapak akan dibelikan tikar, meja dan sound (tapi biasanya barang-barang ini tidak dimasukkan ke dalam rukem tapi ditempatkan di rumah salah satu warga). Kumpulan uang dari ibu-ibu dibelikan barang-barang pecah belah dan alat-alat dapur yang nantinya akan dimasukkan ke dalam rukem. Apabila barang-barang sudah mencukupi maka uang arisan yang terkumpul dapat dipakai untuk membantu warga yang sakit, kemalangan atau hajatan.

Dalam hati saya berfikir kalau ada hajatan untuk ukuran 100 orang mungkin warga RT di wilayah tersebut tidak  pusing-pusing lagi mikirkan barang-barang/alat-alat kebutuhan hajatan, tinggal koordinasi saja sama pengurus rukem, kapan butuh tinggal ambil, tidak sewa lagi. 

Masyarakat desa masih kuat dengan kearifan lokal yang mereka bangun sendiri dengan kekuatan mereka sendiri pula.  Kearifan lokal yang mereka miliki juga berfikiran melampaui batas waktu, bukan saja untuk sekarang tapi untuk anak cucu mereka nanti. Ini yang saya gumamkan dalam hati. Saya pikir hampir di wilayah pedesaan Indonesia memiliki kearifan lokal yang mungkin berbeda mekanismenya namun tujuannya sama. Tinggal yang menjadi pekerjaan yang berat saat ini adalah merawat kearifan lokal serta mentransfernya ke generasi berikutnya.

Salam



John Pluto Sinulingga
Share:

Perempuan Petani Antara Realitas dan Harapan

Indonesia yang terkenal merupakan negara agraris. Predikat ini disematkan karena keterlibatan puluhan juta petani yang tinggal di pedesaan memiliki matapencaharian di sektor pertanian. Namun pada kesempatan ini saya coba untuk mengambil issue tentang perempuan petani.

Perempuan petani di sini maksudnya adalah mereka yang mengelola satu atau lebih dari kegiatan usaha pertaniannya, yang artinya mereka bukan hanya sekedar membantu dalam proses pertaniannya atau sebagai buruh tani tapi mereka ikut juga mengelola dan bertanggungjawab penuh dalam kegiatan usaha taninya.

Menurut BPS berdasarkan hasil sensus pertanian 2013 jumlah petani di sektor pertanian berdasarkan jenis kelamin  perempuan adalah 7,343,180 orang http://st2013.bps.go.id/dev/st2013/index.php/site/tabel).  Demikian juga La via Compesina Region Asia Tenggara mencatat 70% pekerja pertanian adalah perempuan. FAO mencatat kontribusi produksi pangan di dunia 80% oleh perempuan (https://wartafeminis.com/tag/perempuan-petan).

Dengan data di atas menggambarkan bahwa perempuan petani juga memainkan peran yang sangat penting dalam sektor pertanian. Perempuan petani mengambil bagiannya dalam proses produksi sampai pada distribusi hasil pertanian baik untuk keluarga maupun masyarakat. Namun di sisi lain, perempuan petani juga mengalami berbagai macam ketidakadilan mulai dari diskriminasi, subordinasi dan marginalisasi peran mereka dari sector pertanian.

Banyak sekali persoalan-persoalan yang dihadapi oleh para perempuan petani dalam menjalankan proses produksi sampai kepada pendistribusian produk yang mereka hasilkan. Perempuan petani tidak mempunyai hak kepemilikan atas lahan. Penguasaan sumber-sumber daya agraria oleh perempuan petani sangat kecil dibandingkan oleh laki-laki petani. Perempuan petani juga tidak memiliki akses kredit untuk benih atau pupuk.

Dalam hal akses ini laki-laki petani diberikan peluang yang lebih besar daripada perempuan petani disebabkan karena laki-laki petani adalah sebagai kepala keluarga dan semua sumber daya agraria yang dikuasai diatasnamakan laki-laki. Dan kesempatan perempuan petani untuk mendapatkan akses pendidikan sangat rendah dibandingkan laki-laki petani. Karena anggapan masyarakat bahwa setinggi-tingginya perempuan berpendidikan, maka akan kembali mengurusi dapur, sumur dan kasur.

Bahkan perempuan petani  tidak memiliki akses untuk dapat memasarkan atau mendistribusikan hasil produksi. Kenapa perempuan tidak memiliki akses ke pasar? Ini karena anggapan masyarakat bahwa semua yang berhubungan dengan publik bukan ranah perempuan. Persoalan-persoalan terus dikonstruksi di dalam masyarakat dan mengakibatkan terjadinya pemiskinan perempuan petani. Penyebab utamanya adalah karena tetap dilanggengkannya budaya patriarkhi di dalam masyarakat.

Dengan realitas tersebut bagaimana perempuan petani dapat keluar dari lingkaran tersebut,  memperbaiki pendapatan dan kesejahteraan mereka dan juga untuk  membangun jaringan di antara perempuan petani sendiri dan stakeholder lainnya? Ini merupakan pertanyaan mendasar yang tidak mudah diselesaikan. Membutuh tenaga, pikiran, waktu yang panjang serta keberpihakan untuk menuntaskannya.

Menurut saya hal kecil yang dapat dilakukan untuk menyelesaian persoalan tersebut harus dimulai dengan membangun kepercayaan diri dan kesadaran  perempuan petani. Membangun kepercayaan diri dan kesadaran perempuan petani juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan. banyak hambatan budaya yang sudah terkontruksi dalam masyarakat. Namun saya kira yang penting dilakukan diawal adalah dengan pengorganisasian. Pengorganisasian ini dapat dilakukan dengan musyawarah dan bermacam pendidikan-pendidikan (misalnya ; pendidikan kaum marginal, pendidikan kritis,  pendidikan yang berhubungan dengan matapencaharian mereka (pendidikan pertanian berkelanjutan atau pendidikan pengolahan pangan), pendidikan keadilan gender dan masih banyak lagi pendidikan yang nantinya disesuaikan dengan kebutuhan perempuan petani).

Terbangunnya kepercayaan diri dan kesadaran ketika  sampai pada tahap para perempuan petani sepakat membentuk/membangun organisasi sebagai wadah mereka untuk melakukan berbagai macam hal yang berkaitan dengan kebutuhan mereka. Dengan organisasi tersebut perempuan petani dapat melakukan kegiatan secara bersama-sama yang bertujuan untuk menambah income sekaligus membangun kesejahteraan. Produksi-produksi yang mereka hasilkan (misalnya ; beras dan sayur organik, olah pangan, ikan, hasil ternak) juga dapat menggunakan organisasi sebagai alat untuk membantu memasarkan kepada konsumen.

Organisasi ini juga akan menjadi kendaraan untuk membangun hubungan dengan jaringan stakeholder (misalnya ; pasar dan konsumen, institusi swasta, pemerintah, organisasi rakyat sipil, lembaga pendidikan dll) sekaligus juga dapat melakukan advokasi ke pihak lain yang nantinya akan menjadi mitra dalam melakukan usaha bersama. Organisasi juga dapat dijadikan sebagai wadah perempuan petani  untuk berekspresi secara bebas dengan sumber daya dan kemampuan yang mereka miliki.

Seperti yang saya sebutkan di atas persoalan ini bukan hal yang gampang namun butuh waktu yang panjang dan terus-menerus untuk untuk membangun kepercayaan diri dan kesadaran perempuan petani. 

salam 

John Pluto Sinulingga
Share:

Dua Tahun Beruntun Cristiano Ronaldo Jadi Atlet Berpenghasilan Tertinggi


MADRID - Cristiano Ronaldo tak hanya menjadi pemilik gol dengan jumlah mencengangkan, tapi dia pun masih menjadi pesepak bola yang memiliki penghasilan di atas rata-rata.

Saat ini dia masih menjadi atlet yang mendapatkan bayaran tertinggi di dunia, dari gaji sebagai pesepak bola, hak citra, iklan, dan sponsorship.           

Per 2016, Ronaldo mendapatkan pemasukan mencapai 93 juta euro, atau 5 juta euro lebih dari pendapatannya pada 2015. Praktis, dalam dua tahun terakhir, dia menjadi pesepak bola tertinggi dalam hal jumlah penghasilan dia dapatkan.

Bahkan menurut Forbes, Ronaldo menjadi pemuncak di daftar atlet terkaya, mengalahkan LeBron James dari Cleveland Cavaliers, yang mencatat pemasukan hingga 86,2 juta euro. Sedangkan Lionel Messi hanya mendapatkan pemasukan di angka 80 juta euro.
           
Selain Ronaldo dan Messi di dunia sepak bola, pemain lain yang masuk ke dalam daftar 100 atlet dengan penghasilan terbesar dunia termasuk juga Neymar Junior (37 juta euro), Gareth Bale (34 juta), Zlatan Ibrahimovic (32 juta), Wayne Rooney (23,6 juta), Luis Suarez (23,3 juta), Sergio Aguero (22,6 juta), dan James Rodriguez (21,9 juta).
 
Sementara dari atlet wanita hanya Serena Williams masuk dalam daftar itu dengan pendapatannya mencapai 27 juta euro.* Zulfikar Akbar (@zoelfick)
Share:

Yola dan Odilia, Potret Cinta untuk Anak Penderita Treacher Collins Syndrome

Mereka orang tua yang berusaha memberikan cinta yang sempurna - Dok: Yola Tsagia

Ada saja cara Tuhan menguji kualitas cinta mereka yang berstatus orang tua. Yola Tsagia menjadi salah satunya. Kecintaannya kepada buah hatinya, Odilia Queen Lyla yang acap disapa Odil, makin teruji ketika dokter memastikan putrinya tersebut mengalami Sindrom Treacher Collins.

Odil yang lahir pada 8 Desember 2008 memang sempat membuat ibunya yang acap disapa dengan Yola nyaris tak percaya. Putri yang dicintainya justru mengalami masalah perkembangan fisik.

Semua terasa saat Odil harus masuk ke dalam inkubator, hingga kemudian kesulitan menyusui secara langsung. Saat itu tak terasakan bahwa ada keanehan tertentu. Toh, dari sisi fisik, nyaris tak terlihat ada masalah. Semuanya lengkap.

Tapi kecemasan baru mulai terasa saat memasuki 18 bulan putrinya tersebut belum dapat berjalan, meski ia sudah mampu berdiri. Kegelisahan itu sempat terobati ketika memasuki usia Odil 21 bulan, ia sudah bisa berjalan tanpa perlu dibantu.

Seiring perkembangan, Odil sempat kesulitan bicara, dan hanya dapat mengucapkan beberapa patah kata saja di usia tiga tahun. Saat tes IQ pun tak ada masalah.  Psikolog yang pernah menanganinya sempat mengira Odil menderita autis, tapi belakangan psikolog itu pun ragu karena Odil mampu menunjukkan reaksi yang wajar dan terbilang normal.
Odil, malaikat kecil dengan balita yang mengalami kondisi mirip dirinya - Dok: Yola Tsagia

Baru ketika Odil memasuki usia tujuh tahun, barulah diketahui, gadis kecil tersebut divonis mengalami sindrom Treacher Collin alias cacat di bagian kraniofasial.

Efek sindrom tersebut, kepalanya mengecil, kelopak mata terkulai,  tulang pipi dan rahang tidak berkembang. Yola sebagai ibu sempat shock!

Yola mengakui ada perasaan sulit menerima ketika mengetahui jika putri kesayangannya harus mengalami cobaan yang terasa terlalu berat. "Sebagai ibu muda memang saya alami perasaan gundah luar biasa. Ini terasa sebagai pukulan sangat berat sebagai ibu, melihat anak harus mengalami ini," kata Yola.

Tapi seiring waktu, ibunda Odil itu justru membangun pikiran positif. Baginya, anaknya hanya dapat berharap kasih sayang dan penerimaan dari ibunya sendiri.

"Bukan orang lain. Cuma orang tua yang paling mereka harapkan," kata Yola, menceritakan bagaimana cara dirinya menerima keadaan yang sempat membuat dirinya  merasa terpuruk.

Dari sanalah, Yola akhirnya mampu beradaptasi, hingga tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk putrinya. Baginya, di saat seorang anak sedang tak dapat mendapatkan hal terbaik menurut pandang orang banyak, orang tualah yang paling bisa memberikan itu.

Walaupun, menurut cerita Yola lagi, terkadang ada juga respons buruk dari lingkungan ketika mereka melihat kondisi anaknya.

Misal saja, pernah saat ia menaiki angkutan umum, ada ibu-ibu hamil yang melihat ke arah putrinya. Tapi mulutnya komat-kamit seraya mengusap perutnya sendiri. Gerak mulutnya memperlihatkan ibu tersebut tak menginginkan anaknya mengalami kondisi seperti terjadi pada Odil.

Sebagai ibu, Yola memang terpukul melihat reaksi begitu di depan matanya. "Tapi saya memilih menjelaskan secara baik-baik. Bahwa kondisi yang dialami anak saya ini bukanlah sesuatu yang menular. Ini bukan sesuatu yang harus ditakuti begitu rupa," Yola bercerita tentang pengalamannya.

Menurut Yola yang kini menjadi pengurus Indonesia Rare Disorders, umumnya masyarakat memang cenderung kurang memahami bagaimana berempati kepada anak-anak, termasuk yang mengalami kondisi seperti putrinya.

"Tak jarang, sengaja tak sengaja, mereka menyakiti orang tua dan anak yang mengalami kondisi itu," kata Yola. Maka itulah dia merasa tergerak untuk membantu mengenalkan dan mengampanyekan persoalan Rare Disorder agar publik lebih mengenal kondisi tersebut, selain juga membangun solidaritas di kalangan orang tua yang memiliki anak dengan masalah tersebut.

Perasaan terpanggil untuk bergerak lewat organisasi Indonesia Rare Disorders itu pun tak lepas dari fakta yang ditemuinya sepanjang melihat situasi di lingkungan orang tua yang mengalami masalah serupa. Bahkan ada kasus, seorang ibu rela memilih bercerai hanya agar tak lagi harus melihat anaknya yang mengalami kondisi keterhambatan dalam perkembangan fisik tersebut.

Bahkan dalam sejarah penderita Treacher Collin Syndrome, terdapat kisah yang pernah jadi sorotan media dunia yang menimpa bocah bernama Jono Lancaster, yang bahkan dibuang oleh orang tuanya sendiri. Beruntung, ia ditemukan oleh Jean Lancaster yang kemudian mengadopsinya.
Lancaster yang mengalami sindrom serupa, di masa dewasa jadi motivator dunia - Dok: Daily Share

Dalam kisah Lancaster, dia sempat membenci wajahnya sendiri hanya karena merasa dirinya cacat. Tapi kemudian dia dapat bangkit kembali karena tak berhenti memotivasi dirinya, selain dukungan kasih sayang diperlihatkan orang tua angkatnya. Belakangan, Lancaster sendiri tercatat sebagai salah satu motivator dunia, yang sering berbicara seputar para sindrom yang juga diidap olehnya.

Sementara Yola sendiri yang memiliki anak dengan kondisi mirip Lancaster juga melihat kesulitan menerima kondisi itu seperti terjadi pasangan yang memilih bercerai, tak lepas dari tekanan di sekeliling, sehingga memilih untuk mengeraskan hati, memilih tega, hingga meninggalkan anak yang mereka lahirkan sendiri.

"Lingkungan terkadang menghakimi orang tua yang mendapatkan anak dengan kondisi seperti ini karena mereka punya dosa masa lalu hingga kutukan," Yola menyayangkan hal itu. "Sudut pandang itulah yang terkadang membuat orang tua lebih memilih tunduk pada pandangan masyarakat, dan melupakan nuraninya."

Maka itu ibunda Odil tersebut mengajak agar tak perlu bersikap diskriminatif terhadap anak yang mengalami nasib seperti putrinya. Sebab, mereka tetap saja manusia yang memiliki perasaan dan bisa sedih atau terpukul ketika lingkungan justru menunjukkan penolakan atas keberadaan mereka.
Odil (tengah) terlihat ceria di tengah keluarga yang tak berhenti memberinya cinta - Dok: Yola Tsagia


Di Indonesia Rare Disorders, Yola juga menyebutkan, pihaknya berusaha agar publik dapat lebih berempati ketika mendapati anak-anak yang mengalami kondisi tersebut. "Mereka tak meminta apa-apa. Tapi penerimaan dan respek kepada mereka secara apa adanya, itu sangat bermakna bagi anak-anak tersebut," kata Yola, lirih.

Selain itu, Yola juga mengimbau bagi pasangan yang kemudian mengalami kondisi serupa agar dapat membangun sudut pandang positif, agar tetap dapat bersikap positif kepada anak-anak tersebut. "Agar tak ada lagi yang membuat anak-anak yang kebetulan menerima kondisi begini, tertekan hanya oleh sikap keliru dari orang-orang dewasa."

Yola sendiri mengakui, meski di awalnya sempat kesulitan menerima kenyataan itu, tapi dengan terus-menerus membangun pikiran positif, hingga akhirnya tetap dapat memberikan yang terbaik kepada putrinya dan juga anak-anak lain yang juga mengalami kondisi mirip.

Sekarang, Odil putrinya telah memasuki usia sembilan tahun. Dia tetap menjadi gadis kecil yang ayu, dan tetap menjalani kehidupan selayaknya anak-anak. Dia masih bisa bermain dan tertawa dengan leluasa. Sebab, orang tuanya pun meyakinkannya, apa pun kondisinya, dia tetaplah sebagai anak yang berharga. Great, Mom Yola!*
Share:

Gloria dan Ihsan: antara Mimpi dan Ambisi di BCA Indonesia Open

Mereka telah sering bertarung di mancanegara. Menghadapi berbagai macam lawan dari berbagai benua. Namun sikap rendah hati tanpa menghilangkan gairah besar sebagai bintang muda, terpancar dari dua anak muda yang makin mewarnai dunia bulu tangkis di negeri ini. Ada impian besar dan tekad baja, nama Indonesia mesti kembali, ketika sebuah turnamen besar olahraga tepok bulu kembali dihelat di Indonesia.
***
Telah dua tahun tak ada wajah Indonesia di jajaran pemenang BCA Indonesia Open. Tahun ini ada tekad kuat yang diperlihatkan untuk menghentikan paceklik  gelar di ajang tersebut. Ihsan Maulana Mustofa dan Gloria Emanuelle Widjaja menunjukkan itu saat bertatap muka di Grand Indonesia, Rabu 7 Juni 2017.

Kedua bintang muda bulu tangkis Indonesia itu terlihat lebih tenang menjelang ajang BCA Indonesia Open Superseries Premier 2017. Mereka akan menghadapi  turnamen tersebut di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC) pada 12 hingga 18 Juni ini.

Lima hari menjelang turnamen ini mereka hanya berusaha  mempersiapkan segala hal lebih matang, agar dapat mengembalikan nama Indonesia di ajang tersebut.

"Kita pernah menjadi simbol kekuatan di dunia bulu tangkis, dan ini yang ingin kita kembalikan," begitu tekad Ihsan, saat ia hadir di acara tatap muka bertajuk BCA Blogger Gathering, di Grand Indonesia.


Bagi Ihsan yang terkenal sebagai ikon baru di ganda putra, tak ada cara lain kecuali mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki untuk dapat meraih gelar kali ini.

"Pertama, tentunya kami juga akan mempersiapkan diri sebaik-baik. Selebihnya, bertarung habis-habisan, untuk menunjukkan kekuatan kita sebagai wakil Indonesia," kata
Ihsan lebih jauh.

Hal senada juga diceritakan Gloria, yang mengaku takkan rendah diri terlepas di atas kertas perwakilan negara-negara luar cenderung terkesan di atas angin berdasarkan rapor-rapor pertandingan terkini. Baginya, persiapan mental menjadi salah satu kunci yang menjadi perhatiannya.

"Mempersiapkan stamina dan fisik tentu penting, tapi mempersiapkan mental pun akan menjadi hal yang juga sangat menentukan," kata gadis kelahiran 1993 tersebut. "Saya berusaha dapat menyeimbangkan kedua hal tersebut sebaik mungkin."

Bagi Gloria tak ada alasan untuk rendah diri di tengah fakta adanya penurunan dalam rapor pebulu tangkis yang mewakili Indonesia akhir-akhir ini. Terlepas di atas kertas, sejak Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan menjuarai Indonesia Open pada 2013, belum pernah ada lagi nama wakil Indonesia yang tercatat sebagai juara di ajang tersebut.

Gloria dan Ihsan sepakat bahwa persoalan paceklik gelar di ajang Indonesia Open Superseries Premier 2017, bukanlah masalah yang tak dapat dihentikan. Mereka menilai bahwa talenta dan kemampuan wakil Indonesia tetap sangat diperhitungkan.

"Tinggal kepada kita sendiri, bagaimana memaksimalkan kemampuan yang ada, ditingkatkan, dan kemudian membuktikannya di lapangan pertandingan," kata Ihsan, di sela-sela jumpa dengan para blogger yang diundang bersua mereka di Grand Indonesia.

Di pihak lain, BCA sebagai sponsor turnamen papan atas Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) tersebut, juga menyimpan harapan agar wakil Indonesia di ajang itu dapat kembali membangkitkan gairah "tepok bulu" di negeri ini.

Itu juga diutarakan oleh Vice President CSR BCA Rizali Zakaria, yang juga hadir bersama Achmad Budiarto sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Terlebih ajang itu kali ini berlangsung saat BCA sendiri telah memasuki usia 60 tahun di dunia perbankan Indonesia.

"Ini komitmen BCA untuk mendukung perhelatan berskala internasional yang telah mendapatkan pengakuan dari BWF sebagai The Best Tournamen in the World," ucap Rizali, optimistis.

Sementara Achmad Budiarto yang menjadi Sekjen PBSI pun menunjukkan optimisme, bahwa ajang sebesar ini akan membangkitkan ambisi dan semangat pebulutangkis nasional untuk makin gigih. "Sebab kita punya sejarah panjang dan pernah sangat diperhitungkan dunia di ajang ini," kata Achmad.

Di ajang itu akan ada hingga 310 pebulutangkis yang berasal dari 21 negara yang akan berlaga, selain meraih gelar juga memperebutkan hadiah mencapai USD 1 juta, atau berkisar Rp 13,5 miliar.

Gloria sendiri yang berasal dari klub PB Djarum memang telah memiliki jam terbang terbilang tinggi dalam usianya yang baru menjelang 24 tahun per 28 Desember ini.

Dia pernah dipasangkan dengan Alfian Eko Prasetya di kelas ganda campuran, dan pernah meraih medali emas di BWF World Junior Championship 2011.


Gloria Emanuelle Widjaja juga pernah dipasangkan dengan Edi Subatiar di kelas ganda campuran dan sukses menaklukkan gelar di kejuaraan Macau Open Grand Prix Gold 2014. Ia juga pernah menjadi finalis di kejuaraan China Masters Grand Prix Gold 2015.

Pada 2016 lalu, di ajang BCA Indonesia Open, Gloria juga dipasangkan dengan Edi Subaktiar. baru di kejuaraan Piala Sudirman 2017, Gloria dipasangkan dengan Tontowi Ahmad di Gold Coast, Australia.

Gloria memang memiliki ambisi untuk menorehkan prestasi lebih jauh di dunia bulu tangkis. Terlebih dari keluarganya memang belum pernah ada yang berlatar belakang atlet. "Jadi setiap turnamen begini saya lihat sebagai momen untuk bisa menunjukkan bahwa kami adalah wakil Indonesia, dan kami ingin agar nama negara kita pun kian diperhitungkan di pentas Internasional," katanya.

Gadis kelahiran 28 Desember 1993 itu memang tak menampik jika setiap menghadapi turnamen besar maka persiapan yang harus dilakukan sepadan dengan itu. "Tapi kami juga berusaha mempersiapkan diri lebih dari besarnya tantangan kami hadapi," kata dia, dengan ekspresi tenang.

Tekad itu juga diperlihatkan Ihsan Maulana Mustofa, yang terkenal acap berlaga di kategori tunggal putra. Baginya, menghadapi setiap turnamen seperti BCA Indonesia Open 2017 akan menjadi jembatan untuk membuat Indonesia makin disegani negara luar.

Itu memang telah dibuktikan Ihsan berkali-kali. Pebulutangkis kelahiran Tasikmalaya, 18 November 1995, sudah berpartisipasi di berbagai turnamen kelas dunia. Dari Badminton Asia Championship, Vietnam Open Grand Prix, dan Indonesian Masters Grand Prix Gold pernah dijajalnya sejak 2013.

Pada 2013 juga, kala ia masih berusia 18 tahun, Ihsan telah meraih medali perunggu di kejuaraan BWF World Junior Championship di Bangkok. Setahun kemudian, Ihsan bahkan terpilih mewakili Indonesia di kejuaraan Thomas Cup dan meraih medali perunggu.

Tak berhenti di situ, pada 2014 juta Ihsan tampil di BWF Grand Prix, seperti di German Open Grand Prix Gold, Chinese Taipei Grand Prix Gold, dan menjadi finalis di Dutch Open Grand Prix. Juga pada 2015, lagi-lagi ia menjadi finalis di Thailand Open Grand Prix Gold.

Dalam perjalanannya, Ihsan mengakui jika lawan paling tangguh dihadapinya selama ini adalah Lee Chong Wei. Namun justru dari pengalaman berhadapan dengan lawan itulah,
Ihsan merasa tertantang untuk makin dapat mengerahkan segenap kemampuannya.

Terkait Lee Chong Wei, Ihsan menghadapinya di BCA Indonesia Open Superseries Premier 2016 lalu, dan saat itu ia takluk di babak semifinal dengan skor 9-21 dan 18-21.

Tapi Ihsan memastikan kegagalan yang dialaminya tahun lalu di ajang BCA Indonesia Open takkan membuatnya berhenti. Ia justru merasa tertantang untuk dapat menampilkan performa lebih baik. "Jadi, menghadapi lawan berat itu sekaligus memberikan semangat jauh lebih besar untuk lebih baik darinya," kata Ihsan menegaskan.*

Fakta Menarik BCA Indonesia Open

  • Indonesia Open diadakan kali pertama pada 1982
  • Indonesia Open menjadi bagian BWF World Superseries pada 2007
  • Indonesia Open naik kasta menjadi bagian BWF World Superseries Premier pada 2011
  • Indonesia Open juga dinobatkan BWF sebagai pertandingan bulutangkis terbaik di dunia.
  • Indonesia Open menjadi ajang WSS Premier yang memberikan hadiah terbesar di antara turnamen bulutangkis tingkat dunia lainnya sejak 2014.


Share:

Meraba Pancasila dari Gedung Nusantara

Seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangan. Seratusan peserta berdiri menyambutnya. Saya turut berdiri, sekalipun secara prinsip berbau politik, saya sama sekali berbeda dari sosok tersebut.

Dia adalah Zulkifli Hasan. Berstatus sebagai Ketua MPR RI, dan menjadi sosok paling diburu media. Apa saja pernyataannya akan dilahap insan pers, dan menjadi kabar untuk rakyat banyak. Saat itu saya berada persis di depannya.

Di sana, obrolan demi obrolan berlangsung. Ada keakraban terbangun, ada kedekatan yang betul-betul tanpa sekat.

Saya menanggalkan status sebagai jurnalis di acara ini, dan datang membawa status berbeda, sebagai blogger. Sempat terlibat tanya jawab, dan saya menyinggung persoalan eksklusivitas kelompok yang belakangan kian menunjukkan sinyal bahaya.

Selayaknya insan media yang mengikuti pemberitaan saban hari, saya memaklumi jika persoalan saya singgung tak langsung diamini Ketua MPR. Tapi saya merasa itu harus tetap dibicarakan, agar realita lebih terlihat dan fakta tak lagi tersamarkan.

"Dalam beberapa hal, memang ada kecenderungan siapa pun untuk kembali pada identitasnya," kira-kira begitulah respons beliau. Saya maklumi, karena prinsip politik hingga sudut pandang boleh saja berbeda.

Perbedaan. Itulah obrolan di acara bertajuk Blogger Gathering bersama MPR RI tersebut. Ada perbincangan panjang seputar itu, karena tema yang dibahasbpun berkutat seputar Pancasila, lengkap dengan tagar #IniBaruIndonesia.


Zulkifli Hasan juga mengakui, perbedaan itulah yang membuat Indonesia hebat. Sebab perbedaan sejauh ini justru membuat negeri ini kuat. Dalam hal ini saya pun mengamini karena seperti itulah realitanya.

Walaupun saat datang ke acara ini, ada kegelisahan juga yang saya bawa, menggelayuti pikiran, dan ingin sekali saya tumpahkan panjang lebar.

Sayangnya, durasi tak mengizinkan basa-basi, hingga beberapa pertanyaan pun sempat hampir basi di benak saya sendiri.

Setidaknya dalam pembicaraan yang berlokasi di Gedung Nusantara IV tersebut, semua sepakat bahwa perbedaan itu fakta. Tapi menjadi "pekerjaan rumah" bersama bagaimana menerjemahkan perbedaan sebagai potensi daripada melihatnya sebagai ancaman.

Ma'ruf Cahyono, Sekretaris Jenderal MPR RI, pun turut berbicara bersama para blogger yang hadir di sana. Ia berbagi banyak sudut pandang atas dinamika, entah konflik hingga sengketa, atau usaha dari banyak penghuni republik ini untuk tetap menjadikan perbedaan sebagai potensi membuat negeri ini tak letih karena selalu tertatih-tatih, melainkan dapat berlari kencang dengan semua perbedaan itu.

"Sekarang, Pancasila ini semestinya tak lagi sekadar dianggap sebagai dasar negara, tapi bagaimana menjadikannya sebagai kepribadian kita," Ma'ruf berusaha menjelaskan realita dengan bahasanya.

Ia menyayangkan, banyak yang mengetahui Pancasila, namun tak sedikit yang melupakan bahwa nilai yang ada di sana semestinya menjadi bagian kepribadian rakyat di negeri bernama Indonesia.

"Ketika kita bicara Pancasila dengan semua nilainya, semestinya itu tak lagi sekadar wacana saja. Sebab dari sekolah dasar kita sudah mengenalnya," kata Ma'ruf lagi, yang menilai sejatinya seiring usia rakyat negeri ini lebih menyatu dengan filosofi yang dianut negaranya.

Hal menarik di acara temu ramah itu, para blogger yang turut bicara; saya, Dian Kelana, dan Yusep Hendarsyah, tak begitu saja menyanjung dan memuji mereka yang menghuni tempat di Gedung MPR.

Di sana tetap saja ada kritikan, meski masing-masing berusaha keras menghaluskan bahasa kritikan yang disampaikan.

Tak terkecuali seorang peserta dari kalangan kaum hawa, pun sempat menyorot hingga persoalan figur yang diangkat sebagai Duta Pancasila. Ia menilai ada seniman dangdut wanita, sekalipun layak dihargai sebagai seniman, tapi sejatinya masih tanda tanya untuk menyebutnya Duta.

Ada kesan menarik di sini, obrolan seputar Pancasila, membuat diskusi hingga melempar kritikan berjalan dengan bersahabat. Tak ada caci maki, tak ada hujatan, karena tampaknya semua memahami; mengkritik tak harus menghujat.

Tampaknya semua telah pasang badan, terlepas ada yang berbeda secara prinsip, namun itu tak jadi penghalang untuk saling menghargai. Semua yang bicara di sana mengamini, berpancasila tak hanya sekadar berkata-kata, melainkan diperlihatkan dari apa yang dilakukanya.*
Share:

Mengulik Harga Kendaraan Bintang Sepak Bola Dunia

MADRID – Berstatus sebagai salah satu pemain termahal, Cristiano Ronaldo menjadi penunggang kendaraan termahal. Sebagai pesepak bola kelas elite, aktivitas mereka selaras dengan pundi-pundi mereka di bank, dan Ronaldo menjadi salah satu buktinya.  Ia menjadi pemilik Bugatti Veyron Grand Sport Vitesse yang mencapai harga 1,8 juta paun atau berkisar Rp 30,8 miliar.
         
Bintang lainnya dari Liga Spanyol, Lionel Messi, jadi pemilik Ferrari F430 Spider. Dengan kecepatan 200mph, kendaraan milik Messi masih kalah cepat dibandingkan  Bugatti yang memiliki kecepatan 254mph. Tapi dengan harga tunggangannya yang mencapai harga 173 ribu paun, Ferrari milik Messi tentu saja memiliki harga jauh  lebih tinggi.
         
Harga kendaraan Ronaldo sendiri setara dengan bayarannya untuk laga dengan durasi lebih dari lima jam, atau lima jam 15 menit. Itu berdasarkan bayarannya di  Madrid yang mencapai 365 ribu paun per pekan. Sedangkan Messi, harga kendaraannya hanya setara dengan durasi tampilnya di lapangan sepak bola selama 31 menit 32  detik.
         
Messi dan Ronaldo tak termasuk dalam 10 besar pemain dunia yang dapat membeli mobil mewah dengan menit tampil lebih sedikit, sebagai gambaran mahalnya tunggangan bintang sepak bola tersebut.
Sumber: Daily Mail

Pemain Spanyol di Manchester City,  Navas, dapat membeli kendaraan bermerek Nissan Micra hanya setara menit tampil 11 menit 17 detik. Atau, pemain Argentina di Shanghai Shenhua, Carlos Tevez,  memiliki Porsche Panamera Turbo S dengan 11 menit 35 tampil, berikut N’Golo Kante di Chelsea untuk Mini Cooper SD hanya membutuhkan 12 menit 58 detik.
         
Di belakang mereka terdapat Fernando Llorente (Swansea/Fiat Punto), Axel Witsel (Tianjin Quanjian/Cadillac Escalade), Benedikt Howedes  (Borussia Dortmund/VW Beetle Cabrio), Odion Ighalo (Changchun Yatai/Jeep Wrangler Sahara), Gianluigi Buffon (Juventus/Fiat 500), dan Grazioano Pelle (Shandong Luneng/Morgan Aero 8). Mereka hanya membutuhkan 13 hingga 19 menit tampil untuk memiliki kendaraan masing-masing.
         
Navas yang baru saja meninggalkan City, dengan bayarannya di klub Liga Primer itu mampu membeli delapan Micras per laga dia mainkan. Pasalnya tunggangannya  memiliki harga 11.800 paun. Sedangkan Tevez dengan bayarannya di Shenhua mencapai 635 ribu paun per pekan, memiliki Porsche Panamera Turbo S yang berharga  115.100 paun per pekan.
         
Hal itu kontras dengan Ronaldo, yang membutuhkan lima jam lebih durasi tampil di lapangan laga. Apalagi jika dibandingkan dengan George Boyd pemain Burnley yang  membeli Mercedes 300 SL, harus tampil 45 jam 40 menit 23 detik untuk dapat membeli kendaraannya tersebut. Sedangkan Messi yang membutuhkan 31 menit,  hanya bersaing dengan Wayne Rooney dari Manchester United yang membutuhkan 50 menit 36 detik tampil untuk Aston Martin Vanquish S miliknya.*

Share:

Pesan dari Kalijodo yang Telah Berganti Wajah

Dulu, Kalijodo menjadi salah satu tempat yang menjadi sumber penularan berbagai penyakit, terutama kelamin. Pasalnya, puluhan tahun, kawasan tersebut menjadi tempat prostitusi. Kini, tempat ini telah menjadi tempat yang memiliki atmosfer lebih  sehat, lebih dinamis, dan dipenuhi keriangan warga sekitar yang memadati tempat ini untuk bermain dan bercengkrama.

Sejak Kalijodo ada dengan segala wajahnya hingga berganti wajah, baru di awal Juni 2017 inilah saya berkesempatan tiba di tempat ini. Bisa menyaksikan masyarakat yang memanfaatkan waktu luang berbagi keceriaan hingga berdiskusi di lokasi ini.

Kebetulan, Kementerian Kesehatan lewat Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat (Puspromkes), bersama puluhan sahabat yang beraktivitas sebagai blogger mendapatkan undangan diskusi di lokasi ini.

Tampaknya pihak Kemenkes dan Puspromkes sekalian ingin membantu menunjukkan betapa tempat tersebut telah berubah jauh lebih sehat, dengan aktivitas sehat, dan kebiasaan sehat. Alhasil, saya yang menjadi bagian dari para undangan di lokasi tersebut, bersama-sama  lesehan di satu pojokan yang biasa digunakan kalangan remaja bermain skateboard.

Tak ada sekat. Para pejabat dari Kemenkes pun membaur dengan para peserta yang sehari-hari memang bergerak sebagai aktivis blog dan getol berbagi berbagai hal bermanfaat untuk publik.


Beberapa nama blogger yang terkenal aktif seperti Elisa Koraag, Satto Raji, hingga Wardah Fajri, hingga beberapa nama lainnya turut hadir di  acara tersebut. Djuleha, Atanasia Rian, Nuryanti, Charles Imanuel, Uci, Dian Anthie, Kurnia Amelia, Rachma Febriantie, Sithie Nurjanah, Maya Siswadi, Mia, Windah Tsu, Andri Mastiyanto, Tati Suherman, hingga Evi Fadilah, turut meramaikan diskusi bertajuk Ngabuburit Sehat tersebut.

Mereka tampak antusias mengikuti diskusi itu, terlebih sebagian besar memang berstatus masyarakat urban, yang hampir saban tahun tak dapat melewatkan rutinitas mudik.

Ya, obrolan sepanjang sesi diskusi itu memang tak jauh-jauh dari mudik. Sorotan yang mengemuka dalam diskusi itu adalah dinamika sebagian pemudik yang acap mengabaikan persoalan kesehatan sebelum menceburkan diri dalam perjalanan panjang bernama mudik.


Maka itu dr H.R Deddy Kuswenda M.Kes yang merupakan Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, berikut drg. Kartini Rustandi M.Kes  yang merupakan Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga menjadi pemateri obrolan menjelang sore tersebut.

Dr.Deddy mengetengahkan seputar ajakan agar para pemudik betul-betul memberikan perhatian serius pada masalah kesehatan. Sebab, menurutnya, selama ini akibat dari kelalaian atas faktor ini membuat sebagian pemudik harus menanggung risiko yang sejatinya masih dapat dihindari.

"Selama ini memang itu sering terjadi dan kerap terulang karena sikap sebagian kita yang mengabaikan pentingnya memastikan kesehatan dan  berbagai persiapan untuk mudik," kata dokter Deddy, menjelaskan. "Jadi itu kenapa sering terjadi berbagai kasus di sela-sela mudik, dari kecelakaan hingga berbagai risiko lainnya. Seharusnya itu masih dapat diantisipasi, sehingga kemungkinan buruk itu tak terjadi."

Sementara drg. Kartini juga mengingatkan perlunya perhatian pada semua hal yang dapat membantu keselamatan saat perjalan ketika mudik. "Sebab yang betul-betul paling bertanggung jawab atas keselamatan dan kesehatan kita, ya kita sendiri," kata pejabat Kemenkes tersebut.

Kartini juga mengingatkan, terutama untuk para pengemudi, dalam aktivitas mudik hingga balik, merekalah yang paling menentukan keselamatan penumpang yang berangkat bersama mereka.

"Jadi, paling tidak para pengemudi itu harus cukup memerhatikan kondisinya. Misalnya, per empat jam harus memastikan kesehatannya dengan cara mengeceknya," kata Kartini, yang juga menyebutkan bahwa pemerintah, termasuk Kemenkes, turut membantu menyedikan fasilitas dibutuhkan terutama di terminal-terminal yang ada di berbagai titik di lintas provinsi.


Pengecekan itu, menurut Kartini, menjadi hal penting karena jika disepelekan rentan membawa pengaruh buruk seperti kecelakaan lalu lintas sangat rawan terjadi. "Sementara mereka bertanggung jawab atas sejumlah penumpang yang menggantungkan keselamatan kepada mereka," kata pejabat Kemenkes asal Jawa Barat tersebut.

***
Tak kurang dari tiga jam, diskusi itu berlangsung di tengah atmosfer Kalijodo yang makin dipadati para pengunjung dengan berbagai aktivitasnya.

Sebagian anak-anak berlarian, bersepeda, atau sekadar bercengkrama dengan orang tuanya. Di akhir obrolan menjelang senja itu, pesan penting yang menjadi imbauan pemateri di acara itu, berilah perhatian pada kesehatan sendiri. Selain agar dapat menjalani puasa dengan tenang, nanti ketika mudik pun tak sampai terkendala karena sikap acuh tak acuh diri kita sendiri.

Diskusi ini makin menguatkan atmosfer positif dari Kalijodo yang pernah mendapatkan cap buruk di masa lalu, kini berubah semakin baik.

Di sini, tak sekadar hanya dapat digunakan untuk berbagai aktivitas publik secara fisik, tapi ternyata ini pun dapat digunakan untuk diskusi dengan nyaman di bawah langit Jakarta yang terasa lebih ramah dan manusiawi.*




Share:

Di Pentas Javana, Remy Sylado Bicara Indonesia

Yapi Panda Abdiel Tambayong mungkin bukan nama familiar bagi publik. Kecuali jika disebut Remy Sylado, sebagian besar pecinta dunia literasi akan tahu siapa dia. Ya, dialah penulis yang lahir di tahun Indonesia merdeka, 1945, yang terkenal sebagai penulis sekaligus budayawan.

Tampaknya, tahun kelahirannya memengaruhi gairah yang dimilikinya. Bahwa, negeri ini tegak justru karena di sana ada banyak tiang, dan ia getol mengajak melihat itu dengan jujur.

Itulah yang juga kembali diperlihatkan Remy Sylado ketika dia tampil sebagai pembicara di Gedung Arsip Nasional, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta, sehari menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila.

Ya, 31 Mei, saya beruntung berada di antara peserta diskusi bertajuk; Aku Berindonesia. Bisa menyaksikan bagaimana pemikiran seorang Remy, dan bagaimana dia melihat Indonesia.

Remy Sylado tampil dengan pakaian khasnya, berbaju dan bercelana putih. Gayanya, melepas satu kancing di bagian atas. Entah itu ketidaksengajaan, atau memang dia ingin menegaskan suatu filosofi; hanya ia sendiri yang tahu.

Yang jelas dia berbicara banyak dari sejarah Cheng Ho, dikotomi pribumi non pribumi, mayoritas dan minoritas. Ia mengaitkan semua itu dengan situasi kekinian.

Menurut penjelasan Aristo Kristandyo, Kepala Pemasaran Wings Food, yang menjadi penyelenggara acara tersebut, tema Aku Berindonesia yang diketengahkan untuk mengingatkan kembali kesadaran masyarakat pada keindonesiaan yang belakangan terusik berbagai isu yang datang dari masalah perbedaan.

"(Tema) Aku Berindonesia ini memang untuk mengajak masyarakat menunjukkan keIndonesiaan; berbicara Indonesia, bersikap Indonesia, bernilai Indonesia," ujar Aristo Kristandyo.

Ya, itulah alasan penyelenggara merangkul budayawan sekelas Remy Sylado berbicara banyak hal seputar keindonesiaan. Terlebih figur Remy tak asing lagi sebagai sosok penganjur inklusivitas, dan itu sering digemakan lewat berbagai karya tulisnya.

Remy terlihat gelisah atas fenomena, betapa mudahnya kebencian ditebar, permusuhan dibangkitkan, hingga persoalan kecil sengaja dibesar-besarkan. "Kita lupa, hingga menyepelekan hal-hal itu hanya membuat persatuan kita terkoyak," ia meluapkan kegelisahannya.

"Padahal," kata Remy lagi, "Jika ingin bicara soal pribumi dan non pribumi, tak ada dari moyang kita yang betul-betul pribumi, hampir semuanya adalah imigran."

Menurut Remy lagi, kecenderungan itu tidak sehat jika dikaitkan dengan keutuhan negara ini. "Bahkan sudut pandang begitu dapat dikatakan sebagai kebodohan--memilah lalu membenci hanya karena klasifikasi pribumi dan nonpribumi," Remy menggugat. "Juga tudingan yang mengafirkan orang lain, (terlepas ada di agama tertentu) tapi itu justru dijadikan cara untuk merendahkan dan menghina sesama kita sendiri."

Remy juga berkisah, jika dirinya terbilang minoritas, dan bahkan berasal dari daerah terpencil. Ada ekspresi kemasygulan diperlihatkannya saat bicara minoritas.

"Ya kalau bicara minoritas, saya sendiri pun minoritas. Sebab saya bahkan berasal dari kawasan terbilang terpencil, Minahasa," katanya lagi, seraya menunjukkan harapannya agar tak ada lagi sekat-sekat yang dibangun tapi justru rentan membuat negeri ini terpecah.

Sejatinya, apa yang disampaikannya dalam diskusi yang diadakan produk minuman Teh Javana (Wings Food) tersebut memang bukan hal baru, setidaknya bagi pembaca buku-bukunya. Ia menyuarakan bagaimana berpikir dan bersikap adil, sebagai manusia, sebagai entitas yang hidup dalam keberagaman yang memang tak dapat ditampik.

Kalaupun ada yang terbilang baru adalah sindirannya terkait penghargaan masyarakat atas karya sastra. Penghargaan dalam arti kesediaan masyarakat untuk melihat sebuah karya sebagai sesuatu yang pantas dibeli dengan harga sepadan.

"Sekarang, buku seharga 150 ribu, sekian bulan belum tentu ada habis terjual," kata peraih Satya Lencana Kebudayaan tersebut. "Beda dengan mobil merek terbaru, tak perlu menunggu lama, jumlah pembelinya membludak meski harganya jauh lebih tinggi dari buku."

Padahal, menurutnya, buku-buku itulah yang mengakrabkan masyarakat dengan bahasa Indonesia, hingga kemudian lebih merasakan identitas sebagai orang Indonesia.


"Dengan bahasa Indonesia, maka yang dari daerah manapun, Aceh, Ambon, Papua, dapat saling terhubung, berkomunikasi," Remy mengingatkan. "Dari sanalah kita makin kuat terikat, menyatu. Jadi bahasa pun menjadi sebuah hal yang sangat menentukan dalam menciptakan persatuan. Kerancuan dalam berbahasa, bisa berakibat jauh."

Hal lain yang juga diingatkan Remy adalah keberanian para penulis atau jurnalis untuk menggunakan bahasa Indonesia secara lebih bervariasi. Menurutnya, dengan cara ini, kejenuhan berbahasa Indonesia bisa terhindarkan. Selain, agar karya tulis pun menjadi lebih kaya.

Lebih dari dua jam berada di salah satu ruangan Gedung Arsip Nasional, terasa singkat. Sejatinya, masih banyak hal, isi pikiran, sosok Remy yang masih dapat digali.

Tapi pihak Teh Javana yang menjadi penyelenggara acara pun harus memberikan porsi untuk beberapa kegiatan lain. Suguhan tarian tradisional Indonesia dilengkapi nyanyian lagu-lagu nasional pun menjadi bagian acara ini.

Sejujurnya, setelah di masa sekolah, baru kali ini saya kembali dapat menyanyikan lagu-lagu yang membuat rasa nasionalisme membuncah kembali. Melafalkan lagu-lagu yang di masa kecil hanya terdengar di satu-satunya TV milik negara, dan dinyanyikan di sela-sela pelajaran berhubungan dengan seni; terasa lebih magis.

"Garuda Pancasila, akulah pendukungmu... Patriot proklamasi, sedia berkorban untukmu..." lagu ciptaan seniman Lekra, Sudharnoto, ini menggugah dan mampu membangkitkan kecintaan kepada negara yang dibangun dengan batu-batu yang tak seluruhnya sama.*


Share:

Kasus Dokter Fiera, Kezaliman Atas Nama Agama

Gampang tersinggung hingga mudah marah adalah wajah Islam hari ini. Bukan Islam sebenarnya, tapi Islam yang diseret ke dalam ketidakpercayaan diri sebagian pemeluknya, juga mereka yang sedang terjebak egoisme bahwa Tuhan hanya menciptakan dunia untuk mereka. Indonesia pun, menurut mereka, hanya layak untuk mereka huni saja.

Begitulah, jika Anda melempar kritikan kepada figur-figur yang dikultuskan, tak peduli Anda perempuan, maka siap-siap saja menjadi sasaran teror dan intimidasi. Seorang dokter di Padang, Fiera Lovita, juga berjenis kelamin perempuan, telah menjadi sasaran "orang-orang perkasa" yang kebetulan takut kepada perempuan.

Ya, mereka adalah sekelompok lelaki perkasa, rajin menyebut nama Tuhan, apa-apa diadukan kepada Tuhan, tapi takut kepada perempuan. Jadilah, seorang perempuan pun mereka "keroyok" beramai-ramai hingga ia ketakutan. Betapa perkasanya mereka, untuk menghadapi seorang perempuan saja perlu beramai-ramai.

Alasan mereka, karena perempuan ini telah melecehkan tokoh pujaan mereka. Akhirnya, begitulah, mereka bersedia "mencuri rok" dokter perempuan itu untuk mereka kenakan sendiri. Sementara dokter tersebut, meski perempuan, selama ini memilih tak terkekang oleh rok, dan memilih untuk berpikir dan berbicara apa adanya selayaknya intelek.

Ya, intelek itu adalah mereka dari jenis kelamin apa pun yang memilih menyuarakan apa saja yang diyakini benar selayaknya orang merdeka, berdasarkan hasil pemikiran berlandaskan pengetahuan, untuk kemudian disuarakan, diperdebatkan.


Sayang sekali, dokter perempuan itu berhadapan dengan sekelompok orang yang sedang dalam fase besar kepala luar biasa. Saking besar kepala, kelompok itu merasa tak perlu lagi memakai kepalanya, sehingga memilih bersikap dengan modal dengkul saja. Jadilah seorang perempuan pun tanpa tedeng aling-aling mereka teror dan intimidasi. Apakah mereka lelaki? Dari bentuk kelamin mungkin iya, sedangkan dari mental? Mereka masih di bawah perempuan.

Mereka itu mengklaim diri sebagai pembela agama dan pembela Tuhan. Tapi melihat gelagat perlakuan mereka terhadap dokter itu, saya kok merasa mereka itu tak lebih dari sekelompok orang yang menyembah iblis yang menyaru jadi Tuhan.

Toh, jika membuka lagi cerita sufistik, Anda akan mudah menemukan cerita tentang seorang sufi yang beribadah tekun, lantas ditemui iblis yang menyaru Tuhan. "Tak perlu lagi kau beribadah (baca: berbuat baik), karena kau sudah sangat dekat denganku. Sudah cukup semua ibadahmu."

Sufi itu paham sekali, pekerjaan iblis itu hanya menipu. Jadilah, alih-alih dia merasa bahwa itu suara Tuhan, justru ia mengambil sandal, dan melemparnya ke arah suara tuhan gadungan itu.

Menyimak kejadian dokter di Sumatra itu, saya rasa tak jauh beda dari cerita sufi ini. Dokter ini sedang "melempar sandal" atas banyaknya tipuan yang mengatasnamakan Tuhan; untuk kepentingan politik hingga misi tertentu.

Sementara kelompok yang meneror dokter tersebut begitu yakin bahwa yang dilakukan olehnya adalah penghinaan atas orang yang dekat dengan Tuhan, dan sama artinya menghina Tuhan. Jadilah, dokter ini, perempuan, seorang sendiri, dikeroyok kiri kanan; rumah sakit tempat ia bekerja menyalahkannya, pemerintah setempat pun mendudukkannya sebagai terdakwa, alhasil pembelaan alih-alih menjadi miliknya sebagai perempuan dan intelektual justru menjadi milik mereka yang membawa kelompok tadi.

Begitulah bagian wajah Islam yang sedang dipamerkan kelompok itu. Mereka tak melihat keislaman pada dokter perempuan ini, meski yang dilakukannya adalah; jika Anda menyembah Tuhan ya cukup Tuhan saja, tak perlu kausembah makhluk-Nya, walaupun si makhluk paling rajin menjual garis keturunan.

Menurut dokter perempuan ini, kalaupun makhluk itu--konon lari terbirit-birit ke negara gurun pasir hanya karena kasus chat--adalah keturunan makhluk paling mulia sekalipun, jangan sampai bikin Anda terbius. Ikuti saja dia jika benar, tapi jika salah ya jangan dibenarkan, dan dicari-cari pembenaran.

Sayangnya, kelompok itu, meyakini bahwa dokter ini seorang diri, perempuan lagi, maka mereka makin beringas saja. Mereka seketika mengubah diri menjadi anjing bertaring, menyalak galak, beramai-ramai, ke arah dokter perempuan yang berusaha menyadarkan mereka; bahwa kalian itu bukan anjing, kalian itu manusia yang bisa berpikir, yang harusnya menyembah Tuhan saja, tak perlu menyembah manusia.

Tapi, begitulah, membangunkan orang yang sedang "tertidur" terkadang memang berisiko. Yang tidur tadi merasakan bahwa membangunkannya sama dengan mengganggu kesenangannya. Jika membangunkan mereka, dianggap mengganggu. Alih-alih sekadar menegur atau membalas mengganggu secukupnya, mereka akan membalas mengganggu berkali lipat.

Kenapa? Karena bagi mereka, mengusik mereka sama artinya mengusik kelompok mereka, mengusik kelompok mereka sama artinya mengusik agama, dan itu dinilai sama saja dengan memusuhi Tuhan.

Jadilah mereka berpikir dokter perempuan ini sebagai musuh Tuhan. Juga mengira Tuhan tak punya tangan sendiri, sehingga mereka memakai tangannya sendiri untuk membantu Tuhan. Akhirnya, mereka sendiri yang memosisikan Tuhan layaknya kau dhuafa. Sementara mereka lupa, bahwa yang harus mereka kasihani adalah mereka sendiri, kok untuk menghadapi perempuan tak berani sendiri ujug-ujug mengklaim ingin membela Tuhan.

Begitulah ceritanya. Cerita yang ternyata juga menimpa Afi Nihaya Faradisa, remaja perempuan, yang juga bersuara tentang parahnya kelompok yang rajin menjadikan nama Tuhan sebagai dagangan hingga melupakan kemanusiaan.

Remaja belasan tahun itu, Afi, pun menjadi sasaran "keroyokan". Ia dicibir masih hijau, belum tahu apa-apa. Tak cukup di situ, remaja yang sedang menikmati pergulatan intelektual dengan jujur itu pun diteror.

Tampaknya, bagi kelompok itu, kebodohan lebih mulia daripada keberanian. Sialnya, mereka makin petantang-petenteng mendesakkan cara mereka itu, agar di luar lingkaran mereka terseret untuk masuk bersama mereka.

Lebih sial lagi, sekarang ada partai politik yang menjadi pelindung kelompok itu. Mereka rajin menabur benih doktrin itu; ketololan jauh lebih mulia, asal beriman. Sehingga, begitulah, menghadapi perempuan yang berani berpikir pun mereka bermain keroyokan. Partai apakah itu? Saya hanya menyebut mereka sebagai partai sampah. Sudah.*
Share:

Diremehkan, Hipertensi Renggut Nyawa 10 Juta Orang per Tahun

Setiap tahun ada 10 juta orang di seluruh dunia meninggal hanya karena satu penyebab yang acap disepelekan, dan itu adalah darah tinggi. Senin (22/5) masalah inilah yang menjadi sorotan Ketua Umum Indonesian Society of Hypertension (InaSH), Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S, dalam acara tatap muka di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta.
Dokter Yuda bercerita bahwa fenomena banyak orang yang meremehkan persoalan darah tinggi memang menjadi pemandangan di banyak tempat, tak terkecuali di Indonesia.Alhasil, ketika seseorang sudah kesulitan untuk menangkalnya, barulah mereka berurusan dengan dokter dan rumah sakit dan menghabiskan banyak biaya untuk berobat.

"Padahal, kalau saja kita lebih awas, dan dapat mendeteksi itu lebih dini tentu saja akan lebih cepat terantisipasi dan mencari penanganan sebelum situasi menjadi lebih riskan," kata dr. Yuda, di depan puluhan peserta tatap muka di Hotel Fairmont. "Seringnya masalah darah tinggi ini berdampak bahaya hanya karena ketidakpedulian kita untuk mengecek secara rutin."

Dr. Yuda menyayangkan kebiasaan menyepelekan persoalan tersebut. Padahal, kematian yang diakibatkan oleh darah tinggi terbilang paling tinggi di dunia. 

Tak hanya itu, kerusakan otak dengan berbagai efek lain yang mengiringinya pun kerap terjadi diawali dengan masalah pada tekanan darah yang tak lagi terkontrol.

"Sebab hipertensi memang dapat berakibat merusak sel-sel di otak," kata dr. Yuda lebih jauh. "Jika sudah begitu, jangan heran jika ada saja yang masih berusia muda tapi otaknya lebih cepat tua--melemah--bahkan sering kesulitan mengingat sesuatu."

Soal hipertensi ini, kata dr. Yuda lagi, memang membutuhkan kesadaran dari masing-masing pribadi. Berharap akan ada orang yang mengingatkan secara terus menerus jelas mustahil. "Maka itu kesediaan memeriksa kesehatan sendiri, terutama tensi darah, akan sangat bermanfaat untuk mencegah berbagai kemungkinan buruk yang dapat diakibatkan oleh darah tinggi," dokter tersebut mengingatkan.

Lebih jauh Yuda juga menyebutkan bahwa banyak orang meremehkan masalah darah tinggi itu karena acap kali terjebak pemikiran keliru.

"Ada yang berpikir bahwa itu hanya akan terjadi pada mereka yang sudah tua saja, belum tentu. Ada yang berpikir itu hanya akan terjadi pada mereka dari jenis kelamin tertentu, juga belum tentu," dia mengingatkan lagi. "Semua dapat saja terjadi, tak terkecuali wanita dapat saja mengalami hipertensi dan berujung demensia. Apalagi, wanita yang terkena stroke bahkan bisa demensia hingga tujuh kali lipat diabndingkan pria yang hanya berisiko empat kali lipat."

Usia muda tak berarti takkan terkena oleh masalah tersebut. Maka itu, antisipasi dengan cara memeriksanya secara rutin menjadi salah satu langkah cepat yang dapat diambil. Selain, katanya lagi, memastikan menjaga pola hidup sehat. "Jangan mengandalkan suplemen, walaupun seberapa wah dipromosikan, tetap lebih baik makan sayur yang banyak, bukan suplemen," katanya lagi.

Lebih jauh, menurut Yuda, membatasi konsumsi garam dan olahraga teratur menjadi hal lain yang harus dibiasakan. Terutama merokok, sedapat mungkin harus ditinggalkan. Bahkan, katanya, berhenti merokok sama dengan "investasi" untuk menjaga otak.

Sebab, menurut dokter tersebut, otak memang rentan menua dan mengecil. Tinggal lagi pada kita semua, apakah membuatnya menua lebih cepat atau berusaha menangkalnya dan kuncinya adalah menjaga makanan dan gaya hidup.

"Persoalannya, di Indonesia tidak cuma darah tinggi kerap disepelekan, tapi mereka yang telah jelas-jelas mengalaminya pun sering malas berobat," kata Yuda lagi. "Bahkan dari penderita yang berobat hanya berkisar 30-an persen dari penderita yang terdata."

Maka itu, dr. Yuda mengimbau agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan pada hipertensi yang memang menjadi salah satu pembunuh terbesar bagi manusia.

Hal senada juga disampaikan oleh dr. Tunggul D. Situmorang. Namun, menurut dia, yang sudah berobat pun kerap melakukan hal salah kaprah, berhenti sendiri hanya karena merasa sudah pulih. 

"Padahal hipertensi ini bisa terjadi tanpa kita sadari hingga memicu berbagai risiko," kata dokter yang juga bekerja di Rumah Sakit Siloam tersebut. "Sedangkan hipertensi itu sendiri pun dapat berakibat hingga masalah gagal ginjal kronis, yang bahkan dapat memaksa pasien harus menjalani cuci darah secara rutin."

Di Jepang, menurut cerita Yuda lagi, masyarakat cenderung lebih awas terhadap masalah hipertensi sehingga mereka memiliki alat yang memang mereka simpan di rumah masing-masing untuk memeriksa tekanan darah.

Salah satu alat tersebut adalah Blood Pressure Monitors yang memang diciptakan untuk membantu masyarakat luas dapat memeriksa kondisi tekanan darah secara rutin, terutama jika mereka tak leluasa ke rumah sakit atau ke dokter. 


Omron menjadi salah satu perusahaan yang terkenal intens merilis berbagai produk Blood Pressure Monitors atau alat pengukur tekanan darah. "Tapi  kami tak hanya menjadikan produk kami untuk dijual saja," Yoshiaki Nishiyabu, perwakilan PT Omron Healthcare Indonesia, menegaskan. "Sebab kami juga mengajak masyarakat agar juga bertanggung jawab atas kesehatan diri sendiri."

Nishiyabu sendiri berterus terang jika kehadiran alat pengukur tekanan darah yang akurat memang dibutuhkan, agar masyarakat dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk. Untuk itu, di luar penjualan alat kesehatan, pihak Omron pun mengusung program May Measurement Month 2017. 

Program tersebut dilakukan Omron dengan mengganteng InaSH untuk dapat membantu menghapus penyakit stroke dan serangan jantung, dengan campaign bertajuk Project Zero. 

"Jadi kami berusaha melakukan penyadaran akan bahaya hipertensi dan cara pencegahannya, di antaranya adalah pemeriksaan tekanan darah sendiri secara rutin di rumah," kata Nishiyabu, lulusan Universitas Meiji, Jepang, yang juga pejabat teras di PT Omron Healthcare Indonesia.

Untuk program May Measurement Month itu juga PT Omron Healthcare Indonesia meluncurkan alat pengukur tekanan darah digital HEM-7280T. 

Alat tersebut membantu pengguna untuk memonitor data tekanan darah melalui aplikasi Omron Connect, hanya dengan melakukan sinkronisasi nirkabel dengan ponsel.

Aplikasi Omron Connect itu sendiri juga tersedia di www.omronconnect.com/setup dan dapat di-install pada ponsel berbasis Android maupun Iphone berbasis iOS. Dengan itu, pengguna dapat mengumpulkan data tekanan darah dan membantu dokter mengevaluasi data tekanan darah tersebut.

Memang Omron Connect itu sendiri menjadi salah satu strategi bisnis Omron untuk mengembangkan produk berteknologi tinggi, selain membantu kemudahan bagi masyarakat untuk menjaga kesehatan lewat pemeriksaan tekanan darah secara teratur.

Tak hanya melego produk mereka ke pasar, namun PT Omron Healthcare Indonesia pun menyumbangkan 500 alat pengukur tekanan darah digital untuk masyarakat membutuhkan. Program itu dijalankan sebagai partisipasi program May Measurement Month 2017.*

Share:

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?